Monday, January 9, 2017

Makam Bung Karno : Penantian 16 Tahun (Nazar Bagian Pertama)




Pada hari Senin tanggal 26 Desember 2016, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki juga di tanah Blitar, tepat nya di makam Bung Karno, Sang Proklamator Indonesia. Butuh waktu 16 tahun bagi saya dan keluarga untuk bisa sampai tempat ini. Banyak tantangan dan kendala yang menghiasi perjalanan panjang ini. Saya dan keluarga besar ibu saya yang berjumlah 24 orang, akhirnya bisa berziarah dan berwisata bersama setelah menanti selama 16 tahun. Gimana ceritanya? Yuks mari kita lanjutkan ceritanya.

Berpuluh tahun lalu, ibu saya (mamah) dulu sempat mengucapkan nazar atau janji jika anak anaknya selesai kuliah semua, dia akan mengajak anak dan cucunya untuk ziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Pada tahun 2000, sebenarnya saya dan kaka kaka saya, akhirnya berhasil menyelesaikan amanah kuliah kami. Tapi ternyata setelah usai wisuda kami, tak serta merta urusannya menjadi lancar bagi mamah untuk menunaikan nazar nya. Bertahun-tahun pun terlalui tanpa sempat menunaikan nazar tersebut.


Setiap tahun, kami anak anaknya selalu mengingatkan mamah untuk segera menunaikan amanahnya, tapi memang selalu ada kendala, baik kendala dana maupun kendala teknis seperti waktu, kesibukan dan lain lain. Beberapa bulan lalu, akhirnya kami sedikit memaksa mamah untuk segera merealisasikan nazar itu di tahun ini. Setelah beberapa kali rapat keluarga, akhirnya kami menetapkan waktu keberangkatan untuk ziarah sekaligus wisata keluarga ini pada hari Ahad 25 Desember hingga Kamis 29  Desember 2016. Walau beberapa orang ga bisa ikut karena berbagai alasan, seperti kuliah dan bekerja, alhamdulillah akhirnya nazar tersebut tertunaikan juga.

Pada hari Ahad tanggal 25 Desember 2016, kami berangkat dengan menggunakan bis kecil Big Bird. Tepat setelah shalat shubuh, kami meninggalkan kota Tangerang menuju Kediri, tujuan pertama kami. Sempat berhenti beberapa kali untuk istirahat dan shalat, akhirnya kami mampir di Pekalongan agak lama, untuk membeli Batik sebagai oleh oleh. Belum sampai tempat tujuan, tapi kami sudah membeli oleh-oleh Batik khas Pekalongan. Hal ini dilakukan karena pulangnya nanti akan melalui jalur Selatan sehingga takkan sempat lagi mampir di Pekalongan.

Setelah puas berbelanja di Pekalongan, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kediri. Perkiraan kami bahwa jalanan akan macet, ternyata meleset, jalanan sangat lancar dan tak ada halangan. Kami tiba di Kediri pukul 3 pagi, dua jam lebih awal dari perkiraan kami. Akhirnya kami pun isitirahat sambil menanti waktu shubuh. Setelah shalat shubuh, kami pun jalan jalan di sekitar alun alun Kediri sambil menunggu orang tua siswa yang akan menemui kami. Tepat jam 7, mulai bermunculan orang tua siswa dan siswa kelas X yang memang berasal dari Kediri. Kami pun terkaget kaget dengan penyambutan mereka, yang membawa berbagai oleh oleh beserta catering untuk makan pagi. Setelah itu, kami pun jalan-jalan ke Gumul dan Kampung Anggrek, tempat wisata khas Kediri.

Dari Kediri, kami pun melanjutkan perjalanan ke Blitar, tujuan utama kami yaitu Makam Bung Karno. Rasanya ada rasa yang bercampur aduk saat tiba di Makam Sang Proklamator Indonesia. Rasanya senang, terharu, plong karena tertunaikan sudah nazar Mamah yang penuh perjuangan ini. Ternyata area makam mantan presiden ini ramai dikunjungi orang, ga ekslusif bagi masyarakat yang ingin mengunjunginya. Kami pun disana disambut oleh orang tua siswa kelas X dan orang tua alumni, yang sudah lama tak ketemu. Wah alhamdulillah rejeki silaturahmi memang tak pernah salah. Sungguh saya tak menyangka kalo sambutannya akan seheboh dan sehebat ini... semoga amal baik mereka dibalas dengan yang lebih baik. Hikmahnya pokonya jangan pernah lelah berbuat baik dan sering sering lah silaturahmi...

Semoga Bermanfaat

Senin, 090117.13.35
#odopfor99days#part2#day3

No comments:

Post a Comment

Postingan Favorit