Wednesday, February 1, 2023

MEMBENTUK INSAN YANG CENDEKIA



Sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang bukan hanya membuat siswanya pandai secara akademik saja, tapi juga bisa tumbuh sebagai pribadi yang matang secara emosi dan spiritual. Sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan saja, tapi juga untuk menanamkan akhlak dan adab yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Banyak sekolah yang berhasil membuat siswanya menjadi pintar dan cerdas, tapi tantangan terbesarnya adalah dalam hal membentuk siswanya menjadi siswa yang berakhlak dan memiliki adab yang tinggi.

Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia yang didirikan sejak tahun 1996, sudah banyak meluluskan alumni nya ke berbagai perguruan tinggi berkualitas baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Berkat adanya program yang komprehensif dan kerjasama semua pihak di madrasah ini, sejatinya telah berhasil membentuk karakter siswa siswi MAN Insan Cendekia Serpong, yang bukan hanya pintar dan cerdas, tapi juga dikenal memiliki adab dan akhlak yang baik.

Pada tahun ini, LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi) menetapkan MAN Insan Cendekia Serpong sebagai peringkat pertama sekolah berdasarkan rata-rata Nilai UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) untuk kategori SMA/Ma se Indonesia. Tentu ini adalah menjadi kebanggan bagi semua civitas MAN Insan Cendekia Serpong dan seluruh umat Islam, karena ternyata sekolah Islam bisa bersaing secara sehat dengan sekolah unggulan lain, yang biasanya didominasi oleh sekolah non Islam. Hal ini membuktikan bahwa sekolah berbasis madrasah, yang menyeimbangkan antara Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan Iman dan Takwa (IMTAK) ternyata bisa berprestasi secara nasional.


Prestasi dalam bidang akademik saja tentu tak cukup, karena jika hanya bertujuan untuk menjadikan siswanya berprestasi secara akademik saja, para orangtua bisa memilih sekolah unggulan negeri atau sekolah terpadu lainnya sebagai tempat menimba ilmu bagi putra-putrinya. Saat ini,  Madrasah menjadi pilihan banyak orangtua untuk menjadi tempat pendidikan putra putrinya, dengan harapan agar putra putrinya tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga memiliki karakter yang baik dan memiliki dasar keimanan yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman ke depan.

Maka kata “cendekia” bisa ditafsirkan bukan hanya pintar dan cerdas secara intelektual saja, tapi juga berperilaku baik dan berakhlak karimah serta memiliki dasar keimanan yang kuat. Ini tentu sangat ideal, dan tak mudah untuk diwujudkan, tapi ikhtiar dan proses menuju kesana, tentu harus terus dilakukan.

Suatu hari, saya berbincang santai dengan beberapa alumni yang sudah menghabiskan 3 tahun masa remajanya di MAN Insan Cendekia Serpong. Saya tanyakan perubahan apa yang mereka alami selama menjadi siswa di madrasah ini dengan sebelumnya, serta tantangan apa yang mereka alami setelah lulus dari sekolah ini dan menjadi mahasiswa di berbagai kampus.

Menarik sekali jawaban yang didapatkan karena ternyata berbagai opini muncul dan menjadi diskusi yang seru dan panjang. Ada beberapa dari mereka yang menjawab bahwa setelah menjadi siswa di MAN Insan Cendekia Serpong, banyak perubahan yang didapatkan diantaranya menjadi pribadi yang lebih santun, lebih mandiri, belajar beroganisasi dan bertanggung jawab, dan yang pasti belajar bersosialisasi dengan berbagai karakter teman-teman, dan kakak kelas serta guru dan pegawai yang sering ditemuinya. Jadi mereka merasakan banyak sekali perubahan positif yang dialaminya selama menjadi siswa di madrasah ini.

Saya juga tanyakan tentang perubahan apa yang dialami setelah menjadi siswa dan kemudian menjadi mahasiswa di kampusnya masing-masing. Ada beberapa orang yang menyampaikan mengalami “culture shock” atau gegar budaya setelah menjadi mahasiswa di kampus barunya, karena ternyata kondisi ideal yang selama ini ditemuinya di madrasah ini, tidak didapatkannya di kampus barunya, baik terkait kebiasaan beribadah, pergaulan antara perempuan dan laki-laki, maupun kualitas dosen nya.

Diantara hal menarik yang saya simpulkan dari hasil obrolan tersebut adalah bahwa mereka melihat ada perbedaan signifikan antara teman teman mahasiswanya yang berasal dari madrasah ini dengan mahasiswa yang berasal dari sekolah lain. Karena mereka kuliah di kampus terbaik, tentu yang mereka jumpai adalah mahasiswa yang cerdas dan pintar. Tapi menurut mereka, ada yang membedakan dari para mahasiswa pintar ini antara yang alumni dari madrasah ini dengan alumni sekolah lain.  Yang berasal dari madrasah ini, mayoritas low profile dan tidak arogan, sementara dari sekolah lain, menurut mereka, pintar dan cenderung sombong/arogan. Mereka kagum dengan teman-teman dan kakak kelasnya yang ada di kampus yang sama, setelah bergaul dengan mahasiswa dari sekolah lain, baru mereka sadar, bahwa teman-teman dan kakak kelasnyanya yang juga sangat cerdas, tampil sebagai sosok yang cendekia dan rendah hati.

Penanaman karakter rendah hati ini tentu tak didapatkan secara instan. Ada banyak proses yang dilalui dan penempaan dari berbagai lini yang dilakukan. Sejak menjadi siswa baru, dan berlanjut hingga kelas XII, mereka selalu diingatkan bahwa kepintaran dan kecerdasan itu hakikatnya adalah milik Allah semata, maka tugasnya adalah menyadari bahwa kemampuan dalam hal akademik harus diseimbangkan dengan sisi spiritualitasnya. Maka selain mereka harus unggul dalam bidang akademik, maka juga harus disiplin juga dalam ibadahnya. Baik dalam hal shalat berjamaah, shalat sunat, bacaan dan hafalan Quran, dan lain sebagainya. Sisi keseimbangan dalam berbagai aspek inilah yang sering sekali diingatkan dalam berbagai kesempatan.

Lingkungan juga turut berperan penting dalam membentuk karakter anak. Jika siswa terbiasa disiplin dengan melihat kakak kelasnya tepat waktu, ditambah dengan teladan dari guru atau pegawai lainnya juga disiplin shalat jamaah ke masjid dan hal lainnya. Maka secara otomatis pembiasaan ini akan turut membentuk karakter anak menjadi disiplin dan mandiri dalam segala hal.

Salah satu poin penting yang menjadi titik awal penanaman nilai-nilai karakter keislaman dalam kampus MAN Insan Cendekia Serpong adalah kegiatan MATSAMA (Masa Taaruf Siswa Madrasah) atau dulu dikenal dengan nama PTS (Pekan Taaruf Siswa). Durasi dan bentuk kegiatan MATSAMA ini berubah-ubah. Sebelum pandemi, MATSAMA berlangsung selama seminggu atau 7 hari dan dilakukan secara offline. Saat masa pandemi, kegiatan dilakukan secara online melalui zoom. Setelah masa pandemi, kegiatan MATSAMA ini, dilakukan selama 3 hari secara offline.

Apa saja yang didapatkan siswa selama kegiatan MATSAMA berlangsung? Selain pengenalan lingkungan sekolah, sistem kurikulum dan keasramaan, juga siswa diperkenalkan dengan tata tertib sekolah. Didampingi panitia dari kakak kelasnya yang mengkondisikan dan mensosialisasikan tata tertib selama menjadi siswa Insan Cendekia, siswa baru kelas X pun mulai beradaptasi dengan sistem baru yang ada di MAN Insan Cendekia Serpong.

Siswa kelas X, saat memasuki madrasah ini, tentu berasal dari berbagai latar belakang sekolah dan keluarga. Ada yang saat SMP nya, tidak menggunakan jilbab, ada yang pernah pacaran, ada yang belum lancar baca Qur’an nya dan lain sebagainya. Perlu adanya penanaman standar nilai dan perilaku baik yang salah satunya disosialisasikan melalui kegiatan MATSAMA.  Nilai apa saja yang ditanamkan dan diinternalisasi selama kegiatan MATSAMA, berikut adalah beberapa diantaranya.

Nilai/Materi

Jalur jalan ikhwan akhwat

Adab di masjid, shalat jamaah awal waktu

Adab di kantin

Manajemen waktu dan mandiri

Tolong, terima kasih, maaf

Senyum, salam, sapa, sopan, santun

Sikap buruk (ghibah dan ghasab)

Adab kepada guru dan karyawan

Adab berpakaian

Hubungan Ikhwan Akhwat

Angkatan dan kebersamaan

Organisasi

Tips survive di Insan Cendekia

Kebersihan dan kehidupan asrama

 

Penjelasan dari materi-materi tersebut antara lain adalah sebagai berikut

     1.      Jalur jalan ikhwan akhwat

Di madrasah ini, ada banyak cara untuk menjaga hijab/batas antara putra/ikhwan dan putri/akhwat, termasuk jalan yang harus dilalui. Jalur jalan untuk putra dibedakan dengan putri, dengan tujuan menjaga interaksi agar tidak terjadi khalwat/campur baur antara putra dan putri.

 2.      Adab di masjid, shalat tepat waktu

Adab di masjid dijelaskan terkait kehadiran shalat tepat waktu secara berjamaah di masjid, tata cara shalat jamaah, membuat shaf barisan shalat jamaah, aturan penggunaan pakaian di masjid, dimana putra harus memakai sarung, peci dan koko, sementara yang putri, menggunakan mukena dan segala hal terkait aktivitas di masjid.

 3.      Adab di kantin

Adab di kantin terkait adab makan, yaitu makan menggunakan tangan kanan, makan sambil duduk, menghabiskan makanan yang sudah diambil, tidak mubadzir dalam mengambil makanan, membuang sisa makanan di tempatnya, dan segala hal terkait aturan makan di kantin.

 4.      Manajemen waktu dan mandiri

Hal ini terkait bagaimana mengatur waktu dalam melatih kemandirian, dimana berbagai aktivitas yang padat di sekolah dan asrama, harus diatur agar semua berjalan sesuai yang diharapkan. Baik terkait jadwal mandi, jadwal mencuci yang harus diatur dengan teman sekamar, hingga mengatur waktu tidur agar semuanya bisa berjalan seimbang.

 5.      Tolong, terimakasih, maaf

Hal ini terkait dengan membiasakan diri mengucapkan kata “tolong” saat meminta bantuan atau menyuruh, mengucapkan maaf bila melakukan kesalahan dan mengucapkan terimakasih saat sudah dibantu. Tiga kata ajaib ini, selalu ditanamkan untuk semua civitas madrasah ini.

 6.      Senyum, salam, sapa, sopan, santun

Hal ini terkait dengan adab saat bertemu orang lain, dimana siswa harus membiasakan mengucapkan salam dan bersikap sopan serta santun jika bertemu siapapun, baik adik kelas, kakak kelas, guru atau pegawai maupun tamu yang ditemui.

 7.      Sikap buruk (ghibah dan ghasab)

Hal ini terkait dengan sesuatu yang harus dihindari atau tidak boleh dilakukan di lingkungan sekolah berasrama atau madrasah ini yaitu ghibah yaitu menjelek-jelekkan orang lain dan ghasb atau meminjam barang milik orang lain tanpa izin. Ini juga sekaligus mengajarkan adab dalam meminjam barang orang lain, bahwa saat menggunakan barang milik orang lain, maka harus minta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya.

 8.      Adab kepada guru dan karyawan

Hal ini terkait dengan hal yang harus dilakukan saat bertemu guru dan karyawan di madrasah ini, yaitu mengucapkan salam, siswa perempuan mencium tangan guru atau pegawai perempuan, tidak diperbolehkan mencium tangan guru yang berlainan jenis kelamin, karena termasuk kategori non mahram. Juga harus bersikap hormat dan patuh pada apa yang disampaikan oleh guru dan karyawan, selama tidak menyuruh melakukan sesuatu yang buruk.

 9.      Adab berpakaian

Adab berpakaian ini adalah tentang menggunakan pakaian disesuaikan dengan kondisinya. Jika pergi ke masjid, maka pakaian yang dikenakan adalah berbeda dengan saat siswa berolah raga di lapangan. Lalu ketentuan pakaian untuk perempuan juga dijelaskan harus menutup aurat dan tidak boleh transparan atau membentuk tubuh, kerudungnya harus menutup dada dan berkaos kaki. Untuk laki-laki, tidak diperkenankan menggunakan celana diatas lutut, dan lain-lain yang terkait aurat laki-laki dan perempuan.

 10.  Hubungan Ikhwan Akhwat

Ada banyak siswa yang berasal dari SMP Negeri dimana pergaulan antara perempuan dan laki-laki sebelumnya begitu bebas, bisa saling bersentuhan kepada teman lain jenis kelamin dengan bebasnya. Di madrasah ini, dijelaskan ketentuannya bahwa antara ikhwan dan akhwat, ada yang harus dijaga sikapnya, jarak dalam berbicara, tidak boleh bersentuhan, tidak boleh pacaran dan lain sebagainya.

 11.  Angkatan dan kebersamaan

Di madrasah ini, ada namanya angkatan yaitu kelas X semuanya disebut satu angkatan, begitupun kelas XI dan kelas XII. Saat menjadi siswa di madrasah ini, tidak bisa hidup egois dan seenaknya, tanpa mempertimbangkan kebaikan angkatan. Ada nama baik angkatan yang harus dijaga, ada kebersamaan angkatan yang harus dibangun untuk membangun kekompakan. Sehingga diharapkan angkatan ini berperan penting dalam membantu siswa baru beradaptasi di sekolah berasrama.

12.  Organisasi

Selain belajar akademis, di madrasah ini siswa juga diajarkan untuk belajar bersosialisasi dan berorganisasi melalui OSIS dan beberapa kepanitiaan kegiatan. Diharapkan melalui berbagai kegiatan ini, siswa dilatih untuk memiliki soft skill sebagai bekal kehidupan di masa mendatang.


13.  Tips survive di Insan Cendekia

Ada banyak kasus siswa yang sebelumnya tidak pernah sekolah di sekolah berasrama, kesulitan beradaptasi dengan sistem sekolah berasrama. Maka siswa baru perlu dibekali dengan tips dan trik agar bisa betah dan nyaman dalam beradaptasi dengan sekolah berasrama.

 

14.  Kebersihan dan kehidupan asrama

Hal ini terkait dengan membangun kebiasaan dan melatih kemandirian, baik dalam menjaga kebersihan kamar, tempat tidur, lemari dan meja belajar, maupun lingkungan asrama secara keseluruhan. Bahwa hidup di asrama berbeda dengan di rumah, yang terbiasa dilayani makan dan lain-lainnya, sementara disini, semuanya harus mandiri dalam mengatur waktu makan, sekolah, istirahat dan aktivitas pribadi.

 

Internalisasi nilai-nilai keislaman selama kegiatan MATSAMA ini menjadi poin penting yang menjadikan karakter siswa siswa di MAN Insan Cendekia Serpong menjadi berbeda dengan siswa-siswi dari madrasah dan sekolah lain. Awalnya mungkin hanya doktrinisasi, tapi seiring berjalannya waktu, akan menjadi pembiasaan dan pada akhirnya akan melekat menjadi karakter yang menetap pada diri siswa dan siswi di madrasah ini.

Panitia MATSAMA, khususnya bagian tata tertib, menjadi pilar penting untuk mengkondisikan siswa baru, yang sebelumnya tidak pernah mondok, tidak pernah jauh dari orangtua, yang biasa dilayani di rumahnya, secara perlahan harus beradaptasi dengan sistem sekolah berasraman di MAN Insan Cendekia Serpong. Untuk menegakkan kedisiplinan siswa di awal saat masuk ini, tim tata tertib dari panitia MATSAMA, menetapkan beberapa hukuman bagi siswa baru yang melanggar. Sehingga diharapkan siswa baru menjadi terbiasa dan bisa beradaptasi dengan sistem yang ada di madrasah ini.

Dampak dari kegiatan MATSAMA di MAN Insan Cendekia Serpong, sangat besar sekali efek positifnya bagi pembentukan karakter siswa siswi di MAN Insan Cendekia Serpong. Banyak siswi yang tadinya tidak berjilbab saat di SMP nya menjadi sadar untuk berjilbab, banyak yang belum mengetahui tentang adab makan dan minum, menjadi sadar dan spontan untuk makan dan minum sambil duduk. Dan masih banyak lagi dampak positif yang dialami siswa baru, setelah mengalami kegiatan MATSAMA ini. Idealnya, kegiatan MATSAMA ini dilakukan secara offline, maka selama masa pandemi dan saat kegiatan MATSAMA ini dilakukan secara online, efeknya tidak terlalu terlihat. Ada perbedaan mencolok yang terlihat antara siswa yang mengalami masa MATSAMA secara online dengan yang offline. Dimana internalisasi nilai-nilai yang ada di Insan Cendekia, lebih berhasil dilakukan jika kegiatan MATSAMA ini dilakukan secara offline.

Yang menarik dari pelaksanaan MATSAMA secara offline adalah adanya kakak kelas yang “disusupkan” menjadi peserta. Fungsinya adalah untuk menjadi informan. Jumlahnya adalah 4 orang yaitu 2 orang putri dan 2 orang putra. Jadi 4 orang kakak kelas yang ikut menjadi peserta MATSAMA ini, perannya dibagi, ada yang mendapat peran sebagai “anak baik” dan ada juga yang berperan sebagai “anak nakal”. Fungsi lain dari kakak kelas ini adalah juga sebagai media untuk “menguji kebersamaan”.

Suatu hari di bulan Juli tahun 2022, saat kegiatan MATSAMA untuk angkatan 28 di MAN Insan Cendekia Serpong, atau tahun ajaran 2022/2023, saya dihubungi panitia dari tim tata tertib MATSAMA. Saya diminta terlibat dalam “drama” dimana  salah seorang dari kakak kelas yang menjadi peserta MATSAMA, disetting untuk keluar/pindah sebagai siswa di madrasah ini.

Agar drama tersebut terlihat meyakinkan, saya sebagai wali asrama angkatan 28, diminta untuk ikut “mengantarkan” pulang siswi ini, dan sudah disiapkan koper dan perlengkapan yang akan dibawa pulang. Drama ini digunakan sebagai alat untuk menguji kebersamaan angkatan 28, apakah mereka akan sedih atau tidak melepas kepergian temannya, dan bagaimana bentuk pertanggung jawaban teman satu angkatan yang tidak bisa mempertahankan keutuhan jumlah angkatan ini.

Diatas sudah disampaikan bahwa dalam salah satu materi yang disampaikan, ada nilai kebersamaan angkatan yang ditekankan, bahwa selama menjadi siswa di madrasah ini, harus menjaga kekompakan dan kebersamaan angkatan. Jika salah satu temannya ada yang sakit atau sedang bermasalah, harus ikut merawat dan membuat nyaman temannya yang sedang bermasalah. Dengan demikian kebersamaan angkatan ini akan meminimalisir siswa tidak betah di madrasah ini.

Tapi materi kebersamaan ini tidak akan teruji jika hanya sebatas teori saja. Maka perlu dibuat sebuah skenario yang menguji kebersamaan mereka. Saat diinformasikan bahwa salah satu peserta MATSAMA ini “disetting” tidak betah dan akan pindah, banyak siswa baru angkatan 28 yang menangis dan merasa sedih kehilangan temannya, lalu saya (berpura-pura) menjemputnya, memeluknya dan mengantarkan kopernya seolah-olah akan pindah. Drama tersebut sukses membuat peserta MATSAMA lain menangis dan panitia pun merasa senang karena misi mereka untuk menguji kebersamaan angkatan pun berhasil dilakukan.

Selain materi yang sudah disampaikan diatas, pada saat MATSAMA juga ada sesi khusus pemberian materi tentang adab dan akhlak yang disampaikan oleh salah seorang guru. Berikut adalah suasana pemberian materi tentang adab dan akhlak pada saat MATSAMA tahun 2022.

Setelah MATSAMA selesai, para siswa baru ini akan masuk pada prgram matrikulasi, yaitu penyamaan standar akademis bagi kelas X. Karena beberapa siswa ini berasal dari madrasah dan SMP yang berbeda-beda, maka perlu disamakan dulu penguasaan dasar-dasar bebrapa bidang studi, yang diakhiri dengan adanya postest atau tes diagnostik untuk menguji kemampuan penguasaan materi matrikulasi. Dalam berbagai tes, biasanya mereka merasa harus berkompetisi secara sehat dan tidak mau berada di posisi terendah, karena sejak SMP nya mereka terbiasa menjadi yang terbaik.

Iklim kompetisi akademis juga turut membentuk karakter anak. Saat melihat temannya rajin belajar, saling berkompetisi sehat dalam meraih nilai, jujur dan tidak mencontek, maka secara perlahan karakter ini akan terbentuk sehingga siswa tidak merasa sombong dengan kepintarannya, karena ternyata banyak temannya yang lebih pintar dan cerdas daripada dirinya.

Terkait mencontek, ada aturan di sekolah ini, bahwa siswa yang diketahui tidak jujur dan mencontek saat ulangan, maka tanpa ampun, gurunya akan langsung memberikan nilai 0, dan ada sanksi sosial yang diberikan, biasanya diminta berkeliling ke kelas-kelas untuk meminta maaf dan mengakui bahwa dirinya sudah mencontek, sehingga diharapkan menimbulkan efek jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Dalam hal ibadah shalat jamaah, memang tidak selamanya siswa ini selalu disiplin shalat lima waktu di masjid. Ada kalanya siswa lelah, kondisi kurang fit, dan banyaknya ulangan sehingga akhirnya menjadi tidur larut malam. Tapi saat dibuat ketentuan bahwa siswa yang tidak shalat berjamaah ke masjid, tidak diperkenankan membawa laptop ke sekolah, dan dicabut izin keluarnya, maka secara perlahan tapi pasti, siswa pun terbiasa untuk disiplin shalat berjamaahnya. Mungkin awalnya mereka melakukannya karena laptop, tapi perlahan tapi pasti semuanya berproses bahwa melakukan suatu ibadah harus atas dasar kesadaran karena Allah Swt. Dan ini adalah bukan proses instan sebulan dua bulan tapi merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan kerjasama dari semua pihak.

Adalah sesuatu yang membahagiakan jiwa saat melihat para remaja ini disiplin dalam shalat berjamaah karena itu merupakan pondasi awal pembentukan karakter yang positif.

Pembentukan karakter siswa menjadi Insan yang Cendekia, tentu bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Kebiasaan di rumah yang sudah terbentuk selama belasan tahun, tentu tidak serta merta akan bisa berubah dalam waktu singkat dalam hitungan bulan atau maksimal 3 tahun selama menjadi siswa di madrasah ini. Tapi harapannya, ada banyak warna baru, kebiasaan baru, hal baik yang didapatkan selama menjadi siswa di madrasah berasrama, yang tidak akan didapatkan jika mereka sekolah di sekolah negeri atau sekolah lain yang tidak berasrama.

Saat saya berkomunikasi dengan beberapa orang tua yang putra putrinya dititipkan di madrasah ini, banyak testimoni positif yang didapatkan. Bahwa mereka melihat banyak perubahan positif yang dialami putra putrinya setelah mengenyam pendidikan di madrasah ini. Diantara perubahan positif yang dialami putra putrinya adalah menjadi lebih dewasa, lebih mandiri, lebih santun dalam bersikap kepada orang tua. Dan tentunya lebih islami baik dalam perkataan maupun perilakunya. Semoga perubahan yang dialami, bisa terus mengalami grafik kenaikan, terutama dari segi perubahan perilakunya menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Aamin ya Rabbal Alamin.

Serpong, 10 Mei 2022

Penulis,

 

Eva Novita

(Guru Asrama sejak tahun 2004)

 

 

 

 

 

 

 

 


No comments:

Post a Comment

Postingan Favorit