Thursday, January 27, 2022

Pandemi: Kehilangan dan Menemukan (Hikmah Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidzir

 


Bulan Desember 2020 adalah bulan yang cukup berat untuk saya dan keluarga, karena harus kehilangan pahlawan besar di keluarga kami yaitu Mamah. Dalam kesedihan mendalam, saya tetap harus bersyukur karena masih bisa mendampingi dan “berkencan” dengan Mamah di rumah sakit selama 2 malam 3 hari. Peristiwa itu masih melekat dalam pikiran saya, tak pernah hilang sedetik pun saat mamah harus berjuang melawan rasa sakit nya. Penyakit gula yang sudah lama diderita, ditambah kelelahan jiwa dan raga, menjadi wasilah wafatnya mamah tercinta. Hari Sabtu tanggal 19 Desember 2020 pukul 12.20, mamah pergi menghadap pencipta  yang lebih mencintainya.

Hari itu adalah hari yang sungguh tak ingin saya hadapi, bagai mimpi di siang bolong, saya tak menyangka mamah akan pergi secepat itu. Sebagai orangtua dari seorang anak 7 tahun bernama Eza, tentu saya berharap mamah akan tetap mendampingi saya saat Eza lulus sekolah, saat Eza diwisuda sebagai sarjana hingga saat Eza menikah nanti. Tapi ternyata semuanya terjadi bergitu cepat, dan saya harus siap menghadapinya, suka tak suka, mau tak mau, saya harus melewatinya dan belajar mengikhlaskannya, walaupun terasa berat.

Setelah mamah dishalatkan dan dikubur, malamnya saya tidur cepat, mencoba menghindari sesuatu yang seharusnya saya hadapi, dan berharap esok, saat bangun tidur, saya hanya bangun dari mimpi panjang, dan masih bisa bertemu mamah lagi. Tapi ternyata esoknya tetap hampa, mamah tetap tidak ada, dan saya harus mengatasi kesedihan dan kehilangan ini, sambil memikirkan tugas ke depan yang pastinya akan semakin berat. Abah yang juga sudah mendampingi mamah selama 50 tahun, sangat terguncang. Abah sering tertidur dan berharap masih bisa bertemu mamah, walau hanya dalam mimpi.  

Seminggu setelah kepergian mamah, kami harus mengadakan resepsi pernikahan keponakan, yang jauh-jauh hari sudah direncanakan. Mamah banyak meluangkan waktu, tenaga dan fikiran untuk mempersiapkan pernikahan cucunya, dan tak pernah bisa dihadirinya. Saat resepsi pernikahan, saya terus mendampingi abah, dan baru setengah jalan, abah sudah tak kuat, ingin pulang. Saya pun harus merelakan diri untuk tak mengikuti acara hingga akhir, dan memutuskan untuk menemani abah pulang ke rumah. Sudah tak ada hasrat untuk berfoto ria, selfie di lokasi resepsi pernikahan, mencicipi menu catering yang enak. Semuanya serasa begitu hambar, tanpa ada mamah.

Setelah semua urusan selesai di Tasik, saya dan 3 orang kaka saya memutuskan untuk pulang ke Tangerang. Hidup harus terus berjalan, kami kembali ke rumah masing-masing, sambil membawa luka yang entah kapan bisa pulih kembali.

Ini bukan tentang ikhlas dan tidak ikhlas dalam menyikapi takdir Allah, tapi tentang memberi ruang pada diri sendiri untuk berduka. Ada yg bisa pulih cepat setelah kehilangan orang tercinta, ada juga yang butuh waktu lama untuk segera kembali pada aktivitas semula. Saya harus selektif memilih orang yang saya jadikan tempat mencurahkan semua isi hati, karena jika bertemu orang yang salah, bukan pulih yang terjadi, malah bisa jadi semakin terpuruk karena saya dianggap sebagai orang yang tak ikhlas menerima takdir. Padahal bukan disitu inti masalahnya. Ini tentang menerima diri sendiri secara manusiawi, memberi ruang bersedih dan memberi waktu pada diri sndiri untuk memulihkan kembali semangat dan motivasi untuk hidup. Setiap orang membutuhkan waktu berbeda untuk bisa bangkit lagi setelah kehilangan orang yang dicintai. Saya jadi bisa lebih merasakan bagaimana beratnya seseorang yang kehilangan pasangan, kehilangan anak, kehilangan orangtuanya dan lain-lain. Dan akan menjadi semakin berat saat menerima stigma negatif sebagai orang yang tak ikhlas menerima takdir. Rasanya semakin ingin duduk sendiri di pojokan dan tak bertemu banyak orang.

Tapi hidup harus terus berjalan, mungkin sampai saat ini saya belum bisa menerima bahwa orangtua sudah tak ada. Banyak perasaan bersalah yang kerap bermunculan, mengapa dulu tak begini, mengapa tak begitu. Semoga beberapa waktu ke depan, seiring saya belajar mencari hikmah lebih dalam, saya bisa semakin ikhlas menerima ketentuan ini. Toh ini hanya masalah giliran waktu saja, suatu saat kita juga akan menerima giliran untuk kembali kepada Nya.

 KISAH NABI KHIDIR, ANTARA ARADTU (أَرَدْتُ), ARAD NAA (أَرَدْنَا) DAN ARADA RABBUKA (أَرَادَ رَبُّكَ), SAAT KEINGINAN PRIBADI TAK SELARAS DENGAN KEINGINAN TUHAN

 Sambil mencari hikmah dari setiap peristiwa, tiba-tiba saya mendapat pencerahan saat seorang ustadz membahas kajian kisah Nabi Khidzir dalam surat al Kahfi, dari sisi penggunaan bahasa araada yang menggunakan kata ganti yang berbeda,

Berikut beberapa ayat yang membahas hal tersebut.

 أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

وَأَمَّا الْغُلامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".

 Dalam kehidupan ini, kita selalu punya keinginan. Ada keinginan kita yang selaras dengan kehendak Allah. Ada juga keinginan kita yang selamanya tak sesuai dengan kehendak Allah. Dalam surat Al-Kahfi ayat 79-82, ada fenomena menarik yang menggambarkan tentang “keinginan” ini, dengan kosakata “Araada”. Faktor yang menjadi ayat-ayat tersebut menarik untuk dikaji adalah “Kata Ganti” yang digunakan secara berbeda pada keempat ayat tersebut. Ada 3 fenomena kata ganti berbeda yang digunakan dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidzir tersebut yaitu

1.          “Aku ingin” (أَرَدْتُ)

2.           “Kami ingin” (أَرَدْنَا)

3.           “Tuhanmu ingin” (أَرَادَ رَبُّكَ)

Fenomena ini tentu bukan hal yang kebetulan, pasti ada alasan dan hikmah dibalik fenomena ini. Kata yang sama, menggunakan kata ganti berbeda, tentu mengandung makna yang berbeda pula.  Inilah yang akan kita coba elaborasi

Pada kata ganti “Aku ingin”, digunakan pada ayat 79 saat Nabi Khidzir menjelaskan tentang alasannya melubangi perahu. Jadi kata ganti “aku” kembali pada Nabi Khidzir. Nabi Khidir mengatakan bahwa perahu yang dilubangi adalah milik orang miskin, sedangkan di depannya ada raja yang merampas setiap perahu, sehingga itu harus dilakukan, justru untuk menyelamatkan perahu tersebut. Kata ganti “aku” yang kembali pada Nabi Khidzir secara tersirat menjelaskan bahwa untuk aktivitas yang terkesan buruk/tidak baik, dalam hal ini melubangi perahu yang mungkin saja akan mencelakakan orang, tidak berhak untuk mengembalikan pelakunya pada Allah. Maka Nabi Khidzir menggunakan kata ganti Aku bukan “Tuhan ingin”.

Pada kata ganti “Kami ingin”, digunakan pada ayat 81 saat Nabi Khidzir menjelaskan alasan membunuh seorang anak. Anak itu merupakan orang kafir, sedangkan kedua orang tuanya adalah mukmin sehingga Nabi Khidir khawatir jika sang anak membawa orang tuanya dalam kekafiran. Al ghulam dalam bahasa Arab itu adalah anak yang belum mencapai usia balig dan belum terbebani kewajiban hukum. Maka Nabi Khidir berharap semoga Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik dan sayang pada orangtuanya saat ia besar. Kata ganti kami digunakan untuk menjelaskan tentang keinginan dan harapan Nabi Khidir agar mengganti dengan generasi yang lebih baik dalam hal kesucian dan lemah lembut. Jadi kata ganti “Kami” kembali pada beberapa pihak yang berperan dalam mendidik sebuah generasi.

Pada kata ganti “Tuhanmu ingin”, digunakan pada ayat 82 saat Nabi Khidzir menjelaskan tentang alasan Nabi Khidir memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh. Rumah tersebut merupakan milik dua orang anak yatin dan dibawahnya terdapat harta karun bagi mereka berdua. Ayahnya merupakan orang yang shalih dan Allah menghendaki agar saat dewasa, dapat mengeluarkan simpanan tersebut sebagai rahmat dari Allah.  Jadi kata ganti “Tuhanmu ingin” kembali pada Allah. Bahwa terkait hal yang baik, yaitu memberikan perlindungan dan mempersiapkan generasi yang baik, maka pelaku utamanya adalah Allah.

Dan di akhir ayat  82, Nabi Khidzir menegaskan bahwa semua yang dilakukannya, semuanya bukan atas keinginannya sendiri, tapi berdasarkan petunjuk dari Allah. Demikianlah hikmah dari “ketidaksabaran” Nabi Musa yang dijelaskan Nabi Khidzir, terkait alasan tentang perbuatan yang dilakukannya.

Saya pun mendapat banyak pencerahan dari kajian tersebut, bahwa semua yang terjadi atas ijin Allah, tapi semua yang terjadi di muka bumi ini, baik kebaikan, keburukan, belum tentu semuanya mendapat ridha Allah. Maka kita harus berjuang keras mencari ridha Allah, sehingga saat kita meninggalkan dunia ini, kita layak untuk mendapat surgaNya dan diijinkan untuk bertemu melihat-Nya dengan cara yang baik dan membahagiakan.

Begitu juga dengan keadaan pandemi saat ini. Apapun yang terjadi , bagaimanapun tantangannya, prioritas utama adalah keridhoan Allah Swt. Saya mencoba mendidik diri saya sendiri bahwa hidup di dunia adalah perjuangan untuk meraih keridhoanNya. Tak peduli bagaimana situasinya. Saya harus tetap fokus pada apa yang bisa saya lakukan di tengah pandemi ini, terutama untuk membantu orang lain dalam menghadapi pandemi yang ternyata bukan saja mengancam nyawa tetapi kehidupan ekonomi pun semakin terpuruk.

Semoga dengan membantu orang lain, bisa mendatangkan keridhoan Allah dan mengobati rasa kehilangan yang saya alami.

Kamis, 27 Januari 2022, 13.30 (rumah dinas)


No comments:

Post a Comment

Postingan Favorit