Selasa, 26 Februari 2013

ILTIFAT DALAM AL-QUR'AN


Gaya bahasa al-Qur’an selalu menarik untuk dikaji karena keindahan struktur dan maknanya, termasuk iltifat. Gaya bahasa iltifat secara umum sudah digunakan dalam bahasa diluar bahasa Arab, tetapi secara teoritis baru ada dalam bahasa Arab. Bahkan menurut Ibn al-Atsir dalam bukunya Kanz al-Balaghah, gaya bahasa iltifat merupakan keberanian bahasa Arab yang menyebabkan bahasa Arab ini maju. Gaya bahasa iltifat ini memiliki nilai sastra yang tinggi dan banyak digemari oleh para pujangga Arab klasik seperti Jarir dan Umru al-Qais.


Menurut Al-Hasyimi, Iltifat adalah perpindahan dari semua dhamir (kata ganti) kepada dhamir lain, karena tuntutan dan keserasian yang lahir melalui pertimbangan dalam menggubah perpindahan itu, untuk menghiasi percakapan dan mewarnai seruan agar tidak jemu dengan satu keadaan dan sebagai dorongan untuk lebih memperhatikan, karena dalam setiap yang baru itu ada kenyamanan, sedangkan sebagian iltifat memiliki kelembutan, pemiliknya adalah yang memiliki rasa bahasa yang baik.

Sedangkan menurut Al-Zamakhsayri, iltifat sesungguhnya menyalahi realita dalam mengungkapkan sesuatu dengan jalan menyimpang dari salah satu yang tiga kepada yang lainnya.

Ada juga yang berpendapat lain bahwa iltifat itu bukan hanya perpindahan dhamir tapi juga perpindahan gaya bahasa seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman Al-Akhdari yang menyatakan bahwa iltifat adalah perpindahan dari sebagian gaya bahasa kepada gaya bahasa lain untuk mendapat perhatian.

Senada dengan itu, Muhammad Abdul Muthallib dalam bukunya al-Balaghah wa al-Uslubiyyah, mengungkapkan bahwa iltifat adalah penyimpangan dari suatu gaya bahasa dalam kalam (pembicaraan) kepada gaya bahasa lain yang berbeda dengan gaya bahasa yang pertama.

Dari keseluruhan pengertian yang disampaikan para pakar, dapat disimpulkan bahwa iltifat adalah perpindahan atau pengalihan dhamir (kata ganti) dan gaya bahasa sebagai variasi bahasa dalam struktur kalimat dengan tujuan menarik perhatian atau menekankan poin-poin penting.

Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah iltifat dhamir (pengalihan dhamir) dalam al-Qur’an. Iltifat dhamir ini ada 5 macam yaitu :
  1. Iltifat dari mutakallim (persona 1) kepada mukhathab (persona 2)
Contoh dalam surat Yasin, 36: 22
وَمَا لِيَ لا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?

Dalam ayat tersebut, terdapat iltifat/pengalihan dhamir dari persona I (ana/aku) ke persona 2 (antum/kalian) dan ternyata dhamir baru (kalian) itu kembali pada dhamir yang sudah ada sebelumnyayaitu dhamir aku.

2. Iltifat dari mutakallim (persona 1) kepada ghaib (persona 3)
Contoh dalam surat al-Baqarah, 2: 23
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Dalam ayat tersebut, terdapat iltifat/pengalihan dhamir dari persona I (nahnu/kami) ke persona 3 (selain Allah) dan ternyata dhamir baru (ghaib pada selain Allah) itu kembali pada dhamir yang sudah ada sebelumnya yaitu dhamir Kami. Seharusnya jika sama, yang digunakan adalah min dunina (selain Kami).

3. Iltifat dari mukhathab (persona 2) kepada ghaib (persona 3)
Contoh dalam surat al-Baqarah, 2: 187
 …تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu (kalian) mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Dalam ayat tersebut, terdapat iltifat/pengalihan dhamir dari persona 2 (antum/kalian) ke persona 3 (mereka/manusia) dan ternyata dhamir baru (mereka/manusia) itu kembali pada dhamir yang sudah ada sebelumnya  yaitu dhamir kalian.

4. Iltifat dari ghaib (persona 3) kepada mukhathab (persona 2)
Contoh dalam surat al-Fatihah, 1: 4-5
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ  إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
(Dia) Yang menguasai hari pembalasan.  Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Dalam ayat tersebut, terdapat iltifat/pengalihan dhamir dari persona 3 (huwa/dia) ke persona 2 (ka/Engkau) dan ternyata dhamir baru (Engkau) itu kembali pada dhamir yang sudah ada sebelumnya yaitu dhamir huwa/dia.

5. Iltifat dari ghaib (persona 3) kepada mutakallim (persona 1)
Contoh dalam surat al-Baqarah, 2: 252
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.

Dalam ayat tersebut, terdapat iltifat/pengalihan dhamir dari persona 3 (Dia/Allah) ke persona 1 (nahnu/kami) dan ternyata dhamir baru (kami) itu kembali pada dhamir yang sudah ada sebelumnya yaitu dhamir dia/Allah.

Dan masih banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang mengandung iltifat ini. Adapun tujuan penggunaan iltifat diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Pada surat Yasin ayat 22, penggunaan iltifat bertujuan agar pembicaraan berpindah dari menasehati dirinya kepada menasehati kaumnya secara lembut.  Ia berbicara dengan mereka sesuai dengan keadaan mereka, ia berargumentasi kepada mereka bahwa betapa jeleknya apabila tidak mau berpindah kepada Sang Pencipta, sehingga ia mengancam mereka dengan وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
  2. Pada surat al-Fatihah ayat 4-5, penggunaan iltifat bertujuan untuk mengagungkan Yang Disembah, cara yang sopan untuk menunjukkan bahwa Dia pada tingkatan paling tinggi.
  3. Pada surat al-Baqarah ayat 252, penggunaan iltifat bertujuan untuk menambah keyakinan kepada mukhathab yaitu Nabi Muhammad Saw akan kebenaran ayat-ayat Allah Swt.
Dari sudut pandang ilmu Balaghah, menurut az-Zamakhsyari, iltifat ini dapat dikaji pada ketiga unsur ilmu Balaghah yaitu ilmu Ma’ani, ilmu Bayan dan ilmu Badi’. Iltifat dalam ilmu Ma’ani adalah dari segi perpindahannya dari tuntutan yang nyata. Sedangkan iltifat dalam ilmu Bayan adalah dari segi keragaman ungkapan untuk suatu makna yang dapat menghiasi perkataan itu sendiri. Adapun iltifat dalam ilmu Badi’ adalah dari segi adanya pengumpulan antara bentuk-bentuk secara kontrastif dalam satu makna, berarti termasuk kategori muhassinat ma’nawiyyah.

Kesimpulannya, iltifat adalah pengalihan dhamir (& gaya bahasa) dan merupakan salah satu faktor pendukung aspek kemujizatan al-Qur’an. Tantangan al-Qur’an kepada orang-orang Arab yang memiliki tingkat fashahah dan balaghah yang tinggi tidak sanggup dipenuhi, padahal iltifat ini merupakan salah satu kebanggaan mereka.

Penggunaan iltifat dhamir (pengalihan kata ganti) dalam al-Qur’an memiliki tujuan-tujuan khusus diantaranya menguatkan motivasi, menasehati orang lain melalui diri sendiri, memuliakan, mengagungkan dan menambah keyakinan. Tujuan-tujuan tersebut sekaligus menunjukkan keindahan makna semantisnya.

Wallahu a’lam bish shawwab
Semoga bermanfaat.

Referensi:
  1. Maktabah Syamilah
  2. Keindahan Ungkapan Iltifat dalam al-Qur’an, Dr. Mamat Zaenuddin, MA

Wassalam
Eva Novita Ungu
Rabu, 27 Februari 2013
Subhaanaka laa ‘ilma lanaa illa maa ‘allamtana
(Maha Suci Engkau, kami tak memiliki pengetahuan selain yang Engkau ajarkan kepada kami)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar