Monday, October 2, 2017

Kelas Public Speaking Bersama Muchlis Anwar



Hari Sabtu kemarin, saya mengikuti Kelas Publik Speaking yang diadakan gratis oleh sang master, Pa Muchlis Anwar. Lokasi acara yang bertempat di Communicasting Academy, Pondok Indah ini, lumayan jauh dari Serpong, tapi tetap saya tempuh dengan menggunakan motor.

Dini harinya, saya ngantuk sekali. Efek kelelahan setelah playdate Eza ke Tanjung Priuk, rasanya saya ingin bermanja manja di kasur. Tapi godaan setan ini berhasil saya kalahkan, karena dibantu oleh Eza yang menangis karena ingin pipis. Akhirnya saya bangun karena tak mau menyia-nyiakan pertolongan Allah yang sudah membangunkan saya. Saya pun shalat shubuh berjamaah di masjid, walaupun hari libur, rejeki berdekatan dengan masjid yang selama 5 waktu mengadakan shalat berjamaah, tak boleh saya sia-siakan. Kemarin, saat di Tanjung Priuk, saya terlewat shalat dhuhur berjamaah karena nyaris tak ada orang yang shalat di mushala pelabuhan, padahal waktu dhuhur sudah datang. Maka saat tiba di rumah, barulah saya sadar, ada banyak nikmat yang harus saya syukuri dibanding hanya urusan pekerjaan.

Kembali ke kelas Public Speaking, alasan saya ingin mengikuti kelas ini adalah karena saya harus memantaskan diri, ke depan saya punya banyak agenda yang mewajibkan saya untuk tampil di depan umum, diantaranya momen presentasi sebagai ketua KIPMA (Koperasi Ibu Profesional Mandiri) dan calon tour guide untuk umroh. Maka walaupun suami tak terlalu mengijinkan berangkat, saya tetap pergi sambil berdoa kencang supaya saya tetap selamat sampai tujuan. Sebenarnya sudah mulai agak pusing, karena masih kurang istirahat, tapi saya paksakan, dengan beberapa kali berhenti untuk sarapan dan beli cas an hape.

Saturday, September 30, 2017

Playdate ke Pelabuhan Tanjung Priuk, Latihan Ketangguhan buat Eza



Hari Jumat kemarin, saya mengikuti playdate Eza bareng teman-temannya di sebuah komunitas, untuk mengunjungi kapal laut di pelabuhan Tanjung Priuk. Pengenalan alat transportasi, rasanya semua sudah dicoba Eza, kecuali kapal laut. Mulai dari mobil, bis, motor, kereta dan pesawat, semua sudah pernah Eza naiki. Maka saat ada tawaran untuk mengunjungi Pelabuhan Tanjung Priuk, saya langsung iyakan, walaupun tempatnya jauh di ujung utara sana.

Saya berangkat pukul 06.30 dari Stasiun Rawabuntu. Awalnya saya janjian dengan teman saya di stasiun Tanah Abang. Tapi mendadak teman saya sakit jadi membatalkan keikutsertaannya. Akhirnya saya pun melanjutkan berkereta ria. Dari stasiun Tanah Abang, kami ke stasiun Manggarai, lanjut ke stasiun Jakarta Kota. Wuah padatnya penumpang di pagi hari membuat saya hati-hati saat mengajak Eza beralih dari satu kereta ke kereta lain. Untungnya ada kursi prioritas bagi ibu yang membawa balita, jadi walaupun padat, saya pasti mendapat tempat duduk. Eza sudah terlihat lelah sejak di Manggarai, tapi saya hibur terus. Eza harus belajar lelah dan dilatih ketangguhannya agar tumbuh menjadi pribadi kuat dan tak lemah dengan berbagai situasi.

Tiba di stasiun Jakarta Kota, waktu sudah menunjukkan pukul 9 kurang, saya mengajak Eza shalat dhuha dulu disini, setelah itu kami memesan grab menuju lokasi. Alhamdulillah hanya bermodalkan 20.000 ditambah dengan parkir 3000, saya sudah tiba di lokasi, yaitu di terminal penumpang pada pukul 09.30. Untuk menghibur Eza yang kelelahan, saya ajak dia ke Indomaret untuk membeli es krim kesukaannya. Ia terlihat senang sekali.

Sesal Tak Jamaah di Masjid



Hari Rabu kemarin, saya mengawas ujian tengah semester di sekolah. Ujian dimulai pukul 7.30 dan berakhir pukul 12 siang. Saat istirahat, saya tak pulang, terus saja berkutat di depan komputer. Hari ini hujan mengguyur kota Serpong dan sekitarnya. Sejak malam, hujan sudah membasahi bumi kampus kami, hingga pagi menjelang sekolah, hujan tetap belum berhenti. Siswa pun berangkat dengan menggunakan payung, pun juga termasuk saya. Biasanya saya menggunakan motor saat ke sekolah, tapi berhubung hujan, maka saya putuskan jalan kaki sambil membawa payung.

Saat ujian berakhir pukul 12 siang, saya pulang bareng teman saya yang juga tetangga sebelah rumah, jadi kami berjalan kaki menuju rumah. Tak lama kemudian, adzan dhuhur berkumandang, saya ko mendadak lupa dengan program dan niat saya untuk shalat berjamaah di masjid sebisanya. Malah saya hampiri Eza, rasanya udah kangen aja, padahal baru tak bersua beberapa jam saja. Cuaca juga masih hujan, sempurna tuk jadi alasan saya tak berangkat ke masjid. Padahal kalau diniatkan serius, mestinya bisa.

Akhirnya saya pun melewatkan kesempatan shalat dhuhur berjamaah di masjid dan tetap melakukannya berjamaah di rumah bareng mba nya. Setelah itu, rasa sesal mendera. Penyesalan memang selalu datang di akhir. 

Postingan Favorit