Monday, May 15, 2017

Hari 1 Program Hamil 40 Hari: Meluruskan Niat



Setelah program hamil 40 hari bagian pertama, “gagal” di hari ke-20, saya mengevaluasi dan merenung apa yang harus saya lakukan berikutnya. Apa saya akan menyerah dan tidak melanjutkan program ini lagi? Ataukah saya akan tetap melanjutkan apapun hasilnya?

Sedih pasti, kecewa mah manusiawi ya saat mendapati harapan tak sesuai kenyataan. Tapi saya merasakan efek positifnya dari program 40 hari ini, ibadah saya menjadi lebih intens dari sisi kuantitas, walaupun kualitasnya masih diragukan karena masih berharap sesuatu dari ibadah yang dilakukan, tidak murni karena mengharap ridha Allah. Yah saya hanyalah manusia biasa yang sedang belajar untuk ikhlas dalam melakukan segala sesuatu.

Jadi program hamil 40 hari ini adalah Program memperbanyak ibadah wajib dan sunnah selama 40 hari berturut turut sebagai “riyadhah/latihan” dan sarana mengajukan “proposal permintaan” pada Allah yang Maha mengabulkan doa agar permohonan kita dikabulkan dan permohonan saya kali ini adalah agar hamil anak kedua.

Apa saja ibadah yang dilakukan? Apapun, mulai dari yang wajib seperti shalat 5 waktu, diutamakan secara berjamaah di masjid, shalat dhuha, shalat tahajud, dzikir, tadarus dan lain-lain. Ternyata untuk bisa konsisten melaksanakan ibadah tersebut selama 40 hari berturut-turut, itu tak mudah.

Tuesday, May 9, 2017

Aliran Rasa Tantangan Gaya Belajar



Setelah mendapatkan materi tentang Gaya Belajar dan mengaplikasikannya melalui tantangan 10 hari Mengamati Gaya Belajar Eza, saya sebagai orangtua cenderung terlalu cepat menyimpulkan bahwa gaya belajar Eza adalah kinestetik, karena dia senang bergerak dan cepat belajar melalui praktek. Sehingga akhirnya stimulus yang dilakukan dominan dengan kesimpulan yang kita ambil. Padahal untuk seusia Eza, yang harus dilakukan adalah memberikan stimulus sebanyak banyaknya untuk semua jenis gaya belajar Eza agar semua potensinya berkembang.

Saya berusaha juga memberikan stimulus untuk merangsang potensi visual dan auditorinya, tapi memang tidak sebanyak kinestetik. Visual Eza dirangsang melalui tontonan film anak seperti Diva the Series, itu juga Eza belajar banyak tentang huruf hijaiyah dan lumayan cepat menyerap, saat teman-teman seusianya belum mengenal sepenuhnya huruf hijaiyah, Eza mampu menyebutkan seluruh huruf hijaiyah dan bisa menjawab saat sebuah huruf ditunjukkan. Auditorinya Eza, saya perkenalkan saat di motor dengan memperdengarkan berbagai hal seperti angka, surat surat pilihan dan doa-doa.

Berbagai kesibukan sebagai pengurus koperasi dan Manager Keuangan IIP saat proses matrikulasi berlangsung, membuat saya tak maksimal membuat list pengamatan gaya belajar Eza. Rencana-rencana spontan saja yang dijalankan, semoga tak mengurangi semangat saya untuk membuat tantangan di kelas Bunda Sayang ini terus berjalan. Rasanya sudah ngos ngosan untuk mengejar setoran tantangan game di kelas bunda sayang, sambil juga harus berperan sebagai fasilitator kelas bunda sayang di kelas Bogor 2. Tapi alhamdulillah walau tertatih-tatih, berusaha menjalani semua peran ini dengan optimal.

Semangatttt...

Semoga Bermanfaat

Ahad, 080517.06.00

#odopfor99days#semester2#day2

Sunday, May 7, 2017

Bedah Buku Cinta Dua Kodi Bersama Asma Nadia : Menulis Adalah Berjuang



Hari ini, civitas MAN Insan Cendekia Serpong kedatangan tamu spesial, penulis best seller banyak buku, beberapa diantaranya diangkat menjadi film seperti Emak Ingin Naik Haji, Pesantren Impian, Surga yang Tak Dirindukan, Assalamualaikum Beijing dan masih banyak lagi karya karya Asma Nadia yang booming di tengah masyarakat Indonesia, maupun dunia.

Panitia I Fun (Islam is Fun) dari siswa siswi MAN Insan Cendekia Serpong berhasil mengundang Asma Nadia untuk berbagi dan menularkan semangat menulis dan berjuang. Acara yang yang dimulai pukul setengah 2 siang ini, berhasil “menampar” para hadirin yang hadir karena banyak menceritakan perjuangan orang-orang yang diberi keterbatasan tapi berhasil “mengalahkan dirinya” untuk move on dan berjuang meraih mimpi-mimpinya.

Sebelum membahas novel Cinta Dua Kodi, Asma Nadia menceritakan latar belakang mengapa dirinya menulis. Baginya, menulis bukan hanya bermodal gagasan bagus semata. Berawal dari keresahan, ia tumpahkan lewat tulisan dan akhirnya menjadi jalan perjuangannya. Ia resah mengamati banyak fenomena remaja yang galau, patah hati dan putus asa dengan berbagai kelelahan, ia resah melihat para ibu yang mengalami permasalahan rumah tangga dan semua keresahannya ia tumpahkan lewat tulisan. Ia ingin berjuang menularkan semangat move on dari semua luka, menyebarkan ide tentang cara menaklukkan berbagai keterbatasan dan sekarang berjuang di jalur film religi sebagai solusi banyaknya film yang minim makna.

Novel dua kodi sendiri adalah novel yang 100 persen ceritanya adalah true story. Pemain utamanya adalah seorang remaja bernama Kartika yang mengalami berbagai kejadian menyakitkan dalam hidupnya, tapi ia memilih untuk tak berlama lama menangisi takdir. Ia memilih berjuang, dengan mulai berjualan 2 kodi pakaian hingga sukses menjadi pengusaha besar.


Banyak quote-quote menarik dari paparan Asma Nadia yang membuat semangat berkobar kembali untuk berbuat karya manfaat, diantaranya dari foto-foto berikut:



Quote terakhir yang ia pesankan untuk para remaja,
“AMBILLAH SATU MASALAH UMAT, SIMPAN DI PUNDAKMU DAN JADIKAN DIRIMU MENJADI BAGIAN DARI SOLUSINYA”


Ada juga quote bagus yang ia kutip dari buku “NO EXCUSE” buah karya suaminya, Isa Alamsyah:
Orang Sukses Berhenti Mencari Alasan, Orang Gagal Mencari Alasan untuk Berhenti
Saat sesi tanya jawab, banyak pertanyaan seru yang muncul dari para siswa, diantaranya,
      1.      Bagaimana caranya menulis yang bisa dirasakan manfaatnya untuk semua kalangan?
      2.      Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah novel?
      3.      Bagaimana cara mengatasi kecaman dan kata-kata nyinyir dari lingkungan sekitar?
      4.      Bagaimana cara membangun sebuah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah?

Dan semuanya dibahas dengan jawaban yang memikat dan seruu... Rugi deh buat yang ga dateng ke acara ini.

Dan waktu semakin cepat berlalu, 90 menit terasa sangat singkat. Sesi ini diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari ketua panitia, berikut adalah dokumentasinya


Dan Asma Nadia berkenan memberikan tanda tangan untuk setiap buku karangannya yang sudah dibeli para pengunjung. Dan yang tak boleh terlupakan adalah pose bersama sang penulis. Berikut adalah foto saat kami meminta tanda tangannya.



Demikianlah

Semoga Bermanfaat

Ahad, 070517.18.00
#odopfor99days#semester2#day1

Postingan Favorit