Monday, April 27, 2020

HARI 4 : KEMUJIZATAN USLUB AL-QUR’AN


Secara bahasa, kata uslub digunakan untuk jalan yang memanjang. Barisan kurma dikatakan juga sebagai usulub. Jadi uslub adalah cara, jalan, madzhab. Uslub juga berarti fann (seni). Ada ungkapan dalam Bahasa Arab bahwa seseorang mengambil uslub dari suatu kalimat, berarti orang itu mengambil seni dari kalimat tersebut.

Dalam terminologi ahli balaghah, uslub adalah sebuah metode dalam memilih redaksi dan menyusunnya, untuk mengungkapkan sejumlah makna, agar sesuai dengan tujuan dan pengaruh yang jelas. Pengertian lainnya, uslub adalah berbagai ungkapan redaksi yang selaras untuk menimbulkan beragam makna yang dikehendaki.

Karenanya, uslub Al-Qur’an berarti gaya bahasa Al-Qur’an yang tidak tertandingi dalam menyusun redaksi penuturannya. Para ulama, baik dulu maupun sekarang, telah membahas bahwa Al-Qur’an memiliki uslub tersendiri yang berbeda dengan uslub-uslub Arab lainnya, dari segi penulisan, retorika dan susunan kalimatnya.

Para ulama telah merilis karakteristik uslub Al-Qur’an yang khas dan istimewa diantara penuturan bahasa-bahasa lainnya. Karakteristik itu antara lain adalah sebagai berikut:

      1.      Penafsirannya bersifat elastis

Dalam uslub Al-Qur’an, kita temukan adanya elastis dalam penafsiran dan lentur dalam penggubahan. Hal ini tidak dimiliki oleh satu uslub pun selainnya. Uslub Al-Qur’an mampu mengobati kegundahan hati manusia pada umumnya, dan dirasakan cukup bagi kalangan tertentu untuk memenuhi semuanya. Bagian luar (ekplisit) dari uslub tersebut dapat dijangkau dengan mudah dan memberi petunjuk bagi kalangan manusia biasa. Ia dapat memenuhi kehampaan jiwa mereka dengan menyusupkan motivasi berupa kabar gembira (targhib) dan peringatan berupa adzab dan siksa (tarhib), serta keindahan dan keagungan dalam ungkapan dan penuturannya. Adapun bagian yang paling dalam (implisit) dari uslub Al-Qur’an akan diserap oleh kalangan filosof terkemuka untuk menambah ilmu pengetahuan dan pemikiran.

Unsur elastisitasnya termasuk salah satu faktor yang menyebabkan kekalnya Al-Qur’an. Bermacam uslub bahasa Arab selama 4 abad lamanya telah mengalami banyak perubahan dan perombakan dari sisi redaksi maupun maknanya. Namun, eksistensi Al-Qur’an masih tetap konsisten dengan uslub nya yang khas dengan ciri-ciri khusus yang tidak ada duanya. Ia selali up to date mengiringi perkembangan zaman. Keindahannya berbekas di lubuk hati dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai sekarang ini, bahkan sampai Allah menghancurkan bumi dan segala isinya.

Pesatnya perkembangan sains akan membuktikan elastisinya penafsiran Al-Qur’an, misalnya tentang penciptaan langit dan bumi, perkembangan janin dalam rahim, tentang ruang angkasa, dan lain-lain, yang bisa jadi, saat diturunkannya Al Qur’an, belum seluas sekarang kondisi perkembangan sains dan teknologinya.

 

      2.      Uslub Al-Qur’an menggunakan metode penyampaian deskriptif

Salah satu tanda yang kentara dalam uslub Al Qur’an adalah penggunaan metode deskriptif dalam mengungkapkan beragam makna dan ide yang ingin dijelaskannya, baik makna yang murni membutuhkan daya pikir untuk memahaminya, kisah masa lalu, atau fenomena yang akan terjadi pada hari kiamat, maupun berbagai isu penting lainnya.

Contohnya adalah sebagai berikut:

a.       Makna “sangat enggan menjawab ajakan untuk beriman”

Apabila ingin mendeskripsikan makna ini hanya dengan mengandalkan daya nalar, kita bisa saja mengatakan, “Sesungguhnya mereka sangat enggan dan benci menjawab ajakan untuk beriman”. Tapi mari kita perhatikan ungkapan yang digunakan Al-Qur’an dalam surat al-Muddatsir ayat 49-51

فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ  كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ

فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ 

Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?",

seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut,

lari daripada singa.

 

Saat membaca ayat diatas, kita bisa membayangkan ada seekor keledai yang lari sekencang-kencangnya dari kejaran singa. Ungkapan tersebut membangkitkan perasaan seorang pembaca, sehingga emosi jiwanya terpengaruh.

b.      Makna “lemahnya berhala-berhala sesembahan kaum muysrikin selain Allah”.

Makna tersebut bisa saja dengan ungkapan “Apa-apa yang kalian sembah selain Allah adalah lemah, tidak bisa menciptakan makhluk yang paling hina sekalipun.” Tapi mari kita lihat redaksi yang digunakan Al-Qur’an:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

 

Ada unsur personifikasi dalam makna tersebut. Hal ini terlihat dalam deskripsi-deskripsi yang “hidup” berikut ini secara berurutan:

Pertama, “mereka (berhala-berhala yang disembah) sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun; Kedua, “walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya”; Ketiga “jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu”; Keempat, penggabungan antara yang menyembah dan yang disembah, melalui firman-Nya, “Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pula) yang disembah”.

Ilustrasi keindahan dalam deskripsi ini terlihat pada hubungan antara kesucian berhala-berhala yang ditaati dan disimpan dalam bentuk yang paling suci di hati para pengikutnya, yang dihubungkan dengan makhluk yang hina. Tidak cukup dengan korelasi seperti ini, bahkan seandainya sekumpulan orang beramai-ramai membuat makhluk ini, tentu mereka tidak akan mampu menciptakannya.

c.       Makna “berakhirnya alam semesta kemudian amal umat manusia diperhitungkan, orang-orang yang berbuat kebaikan akan masuk surga. Orang-orang yang berbuat dosa akan masuk neraka, kelezatan nikmat yang dialami penduduk surga dan prosesi penyambutan terhadap mereka, dan kepedihan adzab yang dialami penduduk neraka dan cemoohan terhadap mereka.”

Redaksi diatas adalah redaksi biasa, mari kita lihat redaksi yang digunakan Al-Qur’an tentang hari kiamat dalam surat Az Zumar ayat 67-75 berikut ini:

 

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).

وَأَشْرَقَتِ الأرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.

وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُونَ

Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Dkatakan (kepada mereka): "Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya". Maka neraka Jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya".

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الأرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

وَتَرَى الْمَلائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki." Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".

 

Demikianlah indahnya ungkapan yang digunakan Al-Qur’an dalam menggambarkan peristiwa kiamat. Dimulai dengan ungkapan yang bergelora dan hidup, kemudian alur cerita berjalan datar, hingga setiap gerakan menjadi terdiam. Segala sesuatu pun menjadi tenang dan menyelusup masuk ke ruangan, diam, dan khusyuk, karena keagungan-Nya dan takut kepada-Nya.

Hari kiamat dimulai pada hamparan bumi yang seluruhnya berada dalam genggaman Tuhan yang Maha Kuasa. Demikian pula langit-langit yang ada diatasnya.seluruhnya digulung dan dihancurkan dengan tangan kanan (kekuasaan) Nya. Sebuah ilustrasi yang membuat perasaan menggigil takut dalam menghadapinya. Daya imajinasi tidak mampu untuk menggambarkan kedahsyatannya.  Saat sangkakala ditiup untuk yang pertama kalinya, maka semua makhluk hidup yang masih ada di muka bumi akan terpelanting jatuh dan mati seketika. Kita tidak tahu persis berapa lama jeda antara tiupan tersebut hingga tiba saatnya tiupan sangkakala yang kedua.

Ketika itu suasana berubah menjadi gaduh yang dipenuhi dengan teriakan dan keributan disana-sini. Semua makhluk dikumpulkan. Tuhan pun muncul. Malaikat mengitari disekelilingnya, suasana pun menjadi hening. Pada saat keheningan seperti itu, tidak dibutuhkan satu kata pun untuk diucapkan, maka perhitungan amal pun terjadilah. Setelah perhitungan amal selesai dan diketahui hasilnya, setiap rombongan diarahkan menuju tempatnya masing-masing. Orang-orang kafir digiring ke neraka dan orang yang bertakwa diarahkan menuju surga. Selanjutnya alur cerita bergambar ini ditutup dengan perasaan yang tertancap dalam relung jiwa yang paling dalam, berupa kekhawatiran, ketakutan dan kehinaan di hadapan keagungan Tuhan. Segala rasa bercampur aduk saat menyaksikan setiap adegan demi adegan.

 

       3.      Metode uslub Al-Qur’an yang istimewa dalam berdebat dan menarik kesimpulan

Mari kita perhatikan surat Al Anfal ayat 67-69

 

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فِي الأرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الآخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 

لَوْلا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Dua ayat ini turun setelah pembebasan tawanan perang Badar dan penerimaan tebusan dari mereka. Dua ayat tersebut pertama kali menyalahkan dan memprotes kebijakan ini. Kemudian dua ayat ini tidak membiarkan ditutup dengan ketetapan dan keinginan untuk meluluskan protes tersebut. Bahkan, ayat-ayat sebelumnya yang mencela kebijakan tersebut menjadi kaidah yang berlaku untuk ayat setelahnya (tentang kebolehan mengambil harta rampasan perang).

Diantara hal-hal yang membuat keistimewaan uslub Al-Qur’an adalah caranya dalam menarik kesimpulan dengan mengeksplorasi berbagai hal dan peristiwa yang kecil-kecil, tetapi sebenarnya memiliki hakekat kebenaran yang luar biasa besar dan sesuai dengan inti permasalahan yang ingin disampaikan.

Seorang bangsa Arab yang memiliki cita rasa yang tinggi akan keindahan bahasa menemukan bahwa uslub Al-Qur’an memang istimewa. Ia mengetahui bahwa faktor yang menyebabkan keistimewaan Al-Qur’an ini tidak berasal dari ungkapan manusia atau makhluk apapun. Gaya bahasa yang digunakan tidak sama dengan ungkapan orang Arab, bahkan yang paling ahli sekalipun dalam bidang bahasa. Bahkan jika semua makhluk berkumpul dan membuat satu ayat saja seperti ayat Al-Qur’an, tidak akan sanggup karena memang itulah mujizat dari Allah, Sang penguasa segalanya. Maka perbedaan antara Al-Qur’an dengan ungkapan manusia bagaikan perbedaan Dzat Pencipta yaitu Allah Swt dengan makhluk Nya.

Maka tugas kita adalah membuktikan keindahan mujizat-Nya dengan cara mempelajari dari ahlinya, atau cukup dengan mengimaninya dan mengamalkan isinya, yang tentu saja itupun bukan hal yang mudah dilakukan, butuh perjuangan kuat untuk mewujudkannya, di tengah banyak godaan untuk melakukan hal lain yang lebih menarik. Semoga kita semua mampu meluangkan waktu (bukan menggunakan waktu luang), untuk mempelajari keindahan mujizat Al-Qur’an ini.

Semoga Bermanfaat

Wassalam

Referensi

·         Ensiklopedia Mujizat Al Qur’an dan Hadits, Kemujizatan Sastra dan Bahasa Al Qur’an, Hisham Thalbah dkk.

 

Serpong, Senin 27 April 2020/4 Ramadhan 1441 H, 14.00

#KolaborasiZaiNovi

#ProyekRamadhanAlZayyan1441H

#AlZayyanHari4

#Karya7TahunPernikahan

#SerunyaBelajarBahasaArab

No comments:

Post a Comment

Postingan Favorit