Friday, June 1, 2018

AL ZAYYAN HARI 16 : RAMADHAN DAN DOA



Pada ayat-ayat puasa di surat al-Baqarah ayat 183-187, ada satu ayat terselip yang tidak secara khusus membicarakan puasa, tapi mengungkapkan tentang doa yaitu di ayat 186 berikut :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Sejak dulu, sudah banyak yang bertanya tanya, mengapa ayat doa ini “terselip” diantara ayat-ayat yang membahas puasa. Bahkan bagi yang tidak suka Islam dan Al-Qur’an, menganggap bahwa ini adalah bukti betapa tidak teraturnya susunan ayat-ayat Al-Qur’an. Beberapa ulama sudah banyak yang menjawab tentang hal ini, diantaranya Imam Ibnu Katsir yang menjelaskan bahwa sengaja Allah meletakkan ayat (186) ini diantara ayat-ayat tentang puasa yaitu sebagai tuntunan atau petunjuk supaya hamba-hamba Allah rajin berdoa ketika menyelesaikan bilangan puasa, terutama pada tiap-tiap berbuka puasa, karena orang yang berpuasa termasuk golongan orang yang do’anya tidak tertolak dan waktu berbuka adalah salah satu waktu diijabahnya doa.


Dalilnya adalah sebuah hadits yang artinya, “Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak: seseorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi”. (HR. At-Tirmidzi)
Dan “Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbuka tersedia doa yang tidak akan ditolak” (HR Ibnu Majah dan Abu Daud).

Pertanyaan berikutnya adalah tidak adakah hal lain yang lebih mengaitkan ayat tersebut dengan puasa, selain berdoa? Disinilah menariknya, mengapa doa diselipkan dalam ayat-ayat tentang puasa yaitu adalah faktor Muraqabatullah / merasa dalam pengawasan Allah. Itulah titik temu antara puasa dan doa. Puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh Allah dan pelakunya sendiri, begitupun doa. Apa yang diminta orang lain, bahkan apa yang dipanjatkan suami kita sendiri, kita ga pernah tau. Orang yang shalat, zakat, haji, mereka terlihat secara fisik. Namun puasa dan doa, hanya Allah dan pelakunya sendiri yang mengetahui.

Kembali pada ayat 186 yang dimulai dengan kata idza (إذا) yang berarti “ketika”. Menurut Nouman Ali Khan, kata tersebut berbeda dengan kata in (إن) “jika”. Kata “ketika”, artinya ada harapan/expecting, sementara kata “jika” membuka kemungkinan kalau yang terjadi sebaliknya. Pemilihan kata idza menjadi tepat karena jika dibandingkan dengan kata in, idza ini mengandung ekspektasi/harapan, ada cinta yang terpancar, sementara in digunakan jika Allah berbicara pada orang-orang yang tidak dipedulikan.

Berikutnya, penggunakan kata ibaadii /hambaku, ini juga menunjukkan arti kedekatan. Penggunaan kata hamba, ditambah dengan dhamir / kata ganti “Ku” ini juga sangat mesra, seolah olah Allah memanggil kita untuk kembali pada dekapan-Nya. Bahwa saking dekatnya Allah, kita bisa memanggil dan berdoa pada-Nya secara langsung, tanpa perantara. Buktinya kata fainni wariib (فَإِنِّي قَرِيبٌ) / “maka sesungguhnya aku dekat” yang langsung dijawab Allah, bukan  kalimat “faqul lahum inni qariib” / katakan pada mereka kalau aku dekat. Maka jika kita berdoa langsung pada Allah, Allah akan langsung respon permintaan kita. Kata inna yang artinya sesungguhnya, merupakan kata penguat bagi yang meragukan. Kata qariib adalah kata benda bukan kata kerja yang terikat waktu, maka dekat ini tak terbatas waktu, Allah selalu dekat, kapanpun dan dimanapun. Indah sekali...

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي

Kata ujiibu artinya adalah menjawab/merespon. Kata lain yang maknanya mirip adalah istijaba. Perbedaannya adalah kata ujiibu artinya merespon dengan cepat, sementara istijaba artinya menjawab atau merespon secara tidak langsung. Kata ad’da’i (الدَّاعِ) adalah isim marifat atau sudah diketahui. Artinya Allah sudah mengetahui setiap orang yang berdoa, siapa namanya, apa profesinya, apa kebutuhannya, Allah mengenal setiap orang yang berdoa, mengetahui secara spesifik dan personal.

Falyastajiibu lii, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku. Seperti yang sudah disampaikan diatas, kata istajaaba ini adalah merespon secara tidak langsung. Jika Allah menggunakan kata ujiibu karena langsung menjawab atau merespon dengan cepat, maka saat dikembalikan pada manusia untuk memenuhi panggilannya, kata yang digunakan adalah yastajibu, karena kita biasanya tidak langsung bersegera untuk ibadah.

Jika kita bandingkan dengan surat Al Fatihah, dalam ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, kita diminta beribadah dulu baru meminta pertolongan. Tapi di ayat 186 ini, kita dipersilahkan untuk berdoa dulu, baru kita diminta untuk memenuhi panggilanNya dan beriman kepadaNya. Betapa istimewanya bulan Ramadhan, kita diminta untuk banyak banyak berdoa dan meminta apapun, baru setelah itu menyempurnakan iman kita. Betapa dekatnya Allah, sehingga saat meminta pun, kita diminta langsung meminta pada-Nya, tak usah menggunakan perantara karena Allah selalu dekat, kapanpun dan dimanapun. Tak peduli  siapa kita, status sosial kita, Allah akan selalu merespon dengan cepat setiap permintaan kita.

Demikianlah hikmah dari “terselip”nya perkara doa diantara ayat-ayat puasa ini. Semoga semakin memotivasi dan membuat kita tambah semangat untuk banyak berdoa di bulan Ramadhan yang tersisa 14 hari lagi.

Semoga Bermanfaat 

Wassalam
Serpong, Jumat, 1 Juni 2018 / 16 Ramadhan 1439 H, 16.00

#KolaborasiZaiNovi
#ProyekRamadhanAlZayyan
#AlZayyanHari16
#Karya5TahunPernikahan
#SerunyaBelajarBahasaArab

1 comment:

Postingan Favorit