Monday, November 6, 2017

Mengawali Program Hamil 40 hari Episode ke-4 dengan Berita Duka




Hari Ahad kemarin, saya mengantar siswa kelas XII manasik umroh ke masjid Al Bina Senayan dengan menggunakan 3 mobil plus satu mobil milik orangtua. Acara yang berlangsung sejak pukul 9 pagi ini, berakhir saat adzan dhuhur berkumandang. Setelah itu, kami langsung ke Rumah Sakit Pasar Minggu untuk menengok rekan sejawat yang terbaring lemah di ruang HCU karena terkena stroke hingga gangguan jaringan saraf.

Saat kami tiba di rumah sakit, istrinya masih histeris setelah mendapat penjelasan dokter bahwa kemungkinan sembuhnya kecil. Ada atau tidak adanya tindakan, sama sama beresiko. Sedihlah istri dan keluarganya mendengar kabar itu. Kami agak lama menjenguk disana sambil menenangkan keluarganya. Kami baru meninggalkan rumah sakit itu pada pukul 14.15. Lalu kami kembali ke Serpong untuk melanjutkan aktivitas.

Tiba-tiba kabar duka itu datang, pukul 5 sorenya, teman kami menghembuskan nafas terakhirnya. Kaget lah kami semua karena hari Jumat, dia tampak masih sehat dan baik-baik saja. Benar benar mendadak dan langsung terpukul mendengar kepergiannya.

Belajar Iqra Gaya Baru



Akhir-akhir ini Eza senang sekali menonton, saya khawatir ia akan kecanduan menonton dan melupakan aktivitas lain, seperti belajar mengaji. Saya mencoba mencari berbagai strategi untuk menggabungkan keduanya, dan dapatlah satu formula, jika ingin menonton, maka Eza harus mengaji dulu. Saya sadar, tidak bisa langsung dihapuskan kebiasaan menontonnya, maka perlahan-lahan saya kurangi, sambil menambah semangatnya untuk belajar mengaji yang diawali iqra 1.

Dulu, saat kecil Eza sudah diperkenalkan huruf hijaiyah lewat tayangan video Diva dan pus, dan cepat sekali nempel di benak Eza. Maka saat beberapa minggu terakhir ini Eza belajar Iqra secara lebih serius, sebelum menonton, hasilnya lumayan diluar dugaan. Iqra 1 diselesaikan dengan cepat. Walopun harus dengan berbagai adegan drama, kadang nangis, kadang malas, kadang rewel dan lain-lain. Tapi saya tak boleh menyerah, Eza harus sedikit demi sedikit belajar mengaji.

Sunday, November 5, 2017

Naik Sepeda : Lika Liku Keberanian



Saat ini Usia Eza adalah 4 tahun kurang 3 bulan. Sedang semangat bermain, eksplorasi berbagai hal dan senang mencoba hal baru. Banyak keterampilan yang sudah dikuasainya, termasuk bersepeda. Biasanya dia sudah puas dengan kemampuan bersepedanya, dengan menambahkan satu roda dibelakang lagi, sehingga menjadi tiga roda. Kemarin, tiba-tiba Eza minta dilepas roda ketiganya dan ingin mencoba bersepeda dengan menggunakan dua roda. Papanya pun membantu melepaskan roda samping dari sepedanya.

Agak ngeri-ngeri sedap sih sebenarnya membiarkan Eza bersepeda roda saat usianya belum genap 4 tahun, temannya yang 5 tahun saja ada yang belum bisa bersepeda roda dua. Tapi karena Eza semangat 45, emaknya berusaha tidak panik, papanya berusaha membantu dengan mengajarinya cara mengawali naik sepeda roda dua. Senang sekali melihat relasi ayah-anak seperti dalam foto ini. Bersyukur sekali punya suami yang banyak meluangkan waktu untuk Eza. Emaknya bagian mendokumentasikan saja.

Mana sisi kreatifnya? Kan tantangan level 9 ini tentang kreatifitas, ko tulisannya tentang bermain sepeda. Terkesan mengada ada kan? Bagi saya, usaha suami untuk mencopot roda sepeda Eza, mengajari cara baru bersepeda roda dua pada Eza, itu kreatif banget. Bagaimana Eza yang tadinya naik sepeda roda empat, lalu satu dilepas, menjadi roda tiga, dan sekarang ingin mencoba menjadi roda dua, bagi saya itu sebuah prestasi yang membutuhkan kreatifitas tinggi, terutama dalam membangun mental berani pada Eza.

Postingan Favorit