Seringkali saya merasa iri pada
sahabat yang bisa melakukan itikaf dalam 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.
Saya sudah pernah mengajukan proposal itikaf pada suami di masjid masjid
sekitar BSD, tapi seringkali ditolak, karena menurutnya ibadah di rumah sebagai
seorang istri dan ibu, sama baiknya dengan itikaf di masjid.
Sejak saya kuliah, saya jarang
sekali bisa itikaf di masjid, kecuali jika masih ada jadwal kuliah pada sepuluh
hari terakhir di bulan Ramadhan. Jika sudah libur, saya lebih memilih pulang ke
rumah di Tasik dan membantu orang tua. Ayah saya jualan kue di Pasar Ciawi, dan
pada 10 hari terakhir biasanya adalah masa laris dan rame, sehingga pasti butuh
bantuan. Ini berlangsung sejak saya kuliah di tahun 1996 hingga saya kerja dan
menjelang menikah di tahun 2011. Pada tahun 2012, ayah saya diminta berhenti
jualan oleh ibu dan kakak saya untuk kemudian fokus menjadi guru ngaji di
mushola Tangerang.
Saat masih jualan di pasar, saya
biasanya berangkat bareng ayah saya (abah) setelah shalat shubuh dan baru
pulang ke rumah menjelang magrib. Biasanya badan terasa remuk redam, dan tak
kuasa untuk itikaf di masjid. Dan masjid di Tasik tak banyak yang mengadakan
itikaf seperti masjid-masjid di Bandung atau Jakarta.
Setelah abah berhenti jualan,
sepertinya saya baru merasa leluasa untuk memikirkan jodoh. Saya sering
berfikir kalau saya menikah dan abah belum berhenti jualan di pasar, siapa yang
akan bantuin sementara kakak saya pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Alhamdulillah kesempatan itu datang di tahun 2013, jodoh datang dan abah sudah
berhenti jualan sejak tahun 2012.
Setelah menikah dan memiliki anak,
saya dan suami mengatur jadwal lebaran di Tasik dan Kudus secara bergantian.
Jika lebaran di Tasik, saya bisa membantu ibu saya mempersiapkan segala hal
tetek bengetk menjelang lebaran, mulai dari membuah kue, memasak untuk buka puasa,
belanja ke pasar, hingga mengantarkan mamah untuk mengirim bingkisan pada
tetangga dan saudara. Tapi jika lebaran di Kudus, apa boleh buat, saya paling
hanya bisa membantu sebisanya beberapa hari, karena harus menjalani prosesi
mudik ke Kudus.



