Setelah
sistem pendaftaran online ditutup pada tanggal 7 April lalu, tahap selanjutnya
adalah seleksi berkas atau verifikasi data. Sesungguhnya jika sistem
pendaftarannya baik dan berkualitas, proses validasi data ini tak memakan waktu
lama, karena secara otomatis, seharusnya seluruh data calon siswa ini
terverifikasi secara sistemik. Tapi ternyata dalam proses perjalanannya,
kondisi ideal itu tak mudah ditemukan. Di tengah perjalanan, saat website tak
mudah diakses, pada akhirnya pendaftar mengirim berkas via email panitia, yang
akhirnya tugas panitialah untuk memprosesnya mulai dari upload dokumen,
mengetik data peserta hingga akhirnya memverifikasinya. Bahkan dalam beberapa
kasus, panitia juga harus menscan dokumen atau mengedit ukuran file agar sesuai
dengan kapasitas yang diminta.
Wednesday, April 27, 2016
Bumerang Pendaftaran Online : Korban Aroganisme
Sepanjang
bulan Maret 2016 kemarin, saya terlibat dalam sebuah kepanitiaan penerimaan
siswa baru di tempat saya bekerja. Sudah beberapa tahun terakhir ini pendaftaran
siswa dilakukan secara online. Adanya perkembangan kemajuan di bidang teknologi
menuntut sistem penerimaan siswa baru yang berbasis online. Karena peserta yang
mendaftar berasal dari seluruh wilayah Indonesia, maka pendaftaran secara
online merupakan suatu keharusan.
Sudah dua
tahun berturut turut saya terlibat atau dilibatkan langsung dalam kepanitian di
bidang pendaftaran. Entah apakah kebetulan saya harus terlibat ini atau ada
tujuan Allah dibalik semua aktivitas yang saya jalani. Sepertinya pilihan kedua
adalah pilihan yang rasional. Selalu ada tujuan dibalik semua rencana Allah
terhadap segala hal yang kita jalani, tak pernah ada yang kebetulan.
Idealnya,
pendaftaran secara online ini didukung oleh sistem software dan program
database terbaik yang dapat mensupport kelancaran proses pendaftaran ini. Tapi
mungkin karena ini adalah awal awal pendaftaran secara online, masih banyak
kendala dan hambatan yang ditemukan seperti sulitnya calon siswa dalam
mengakses website dan mengupload dokumen. Ini menuai banyak protes dan keluhan
dari berbagai daerah di tanah air.
Tuesday, April 26, 2016
Resensi Buku: Tuhan, Inilah Proposal Hidupku
Judul : Tuhan, Inilah Proposal Hidupku
Penulis : Jamil Azzaini
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2009
Tebal : 102 halaman
Banyak orang bilang bahwa hidup itu biarkan saja
mengalir seperti air, tapi tidak begitu dengan Jamil Azzaini. Beliau takkan
membiarkan hidupnya mengalir begitu saja, tapi harus direncanakan dan dibuat
proposal tertulisnya. Dalam buku ini dijelaskan langkah praktis menyusun
proposal hidup versi beliau. Siapakah Jamil Azzaini?
Jamil Azzaini adalah seorang Inspirator SuksesMulia.
Ia mengembangkan PT. Kubik Kreasi Sisilain bersama Farid Poniman dan Indrawan
Nugroho. Pria kelahiran Purworejo Jawa Tengah 9 Agustus 1968 ini menempuh
pendidikan formalnya S1 dan S2 di Institut Pertanian Bogor. Selain sebagai
Direktur di PT. Kubik Kreasi Sisilain, ia juga menjadi dosen Pascasarjana di
IPB.
Dalam buku ini, beliau memaparkan langkah-langkah yang detil untuk menyusun
proposal hidup yakni:
1. Sadari bahwa setiap kita
adalah masterpiece, tidak ada mahluk di dunia ini yang seistimewa diri
kita. Pengalaman hidup kita tidak dimiliki oleh siapapun di dunia ini. Maka
tulislah pengalaman dan prestasi yang akan kita asah dan kembangkan.
2. Menetapkan prestasi terbaik
yang ingin diraih selama hidup. Tulis secara spesifik, terukur, jelas jangka
waktu pencapaiannya, meningkatkan kualitas hidup, dan bermanfaat bagi orang
lain.
3. Menjadi seorang expert.
Pilih keahlian yang menyenangkan agar dapat dengan mudah menikmati dan
mencintai ketika kita mengerjakannya.
Caranya bagaimana?? Beliau menjelskan empat langkah
yang harus dikerjakan:
- Mulailah dengan mendaftar semua kegiatan yang telah dijalani dan banyak menghabiskan waktu.
- Kelompokkan kegiatan tersebut menjadi tiga bagian; kegiatan yang dikuasai, kegiatan yang dicintai, dan kegiatan yang menghasilkan.
- Dari daftar yang tadi dibuat, pilih satu, dua, atau tiga hal yang akan dikategorikan ke dalam tiga bagian yakni kegiatan yang paling dikuasai, yang paling dicintai, dan paling menghasilkan.
- Sering-sering melihat daftar kembali, siapkan rencana untuk mendelegasikan semua kegiatan lain kepada orang lain. Kegiatan-kegiatan yang Anda kuasai, cintai, dan menghasilkan sebaiknya mulai Anda tekuni sekarang juga. Sementara kegiatan selebihnya harusnya sudah Anda ikhlaskan kepada orang lain.
4. Buat target 90 hari yang
terukur, karya apa yang hasilkan dalam 90 hari, bagaimana target keuangan, kesehatan,
target utuk keluarga, aktivitas sosial, target untuk kegiatan spiritual, dll.
Target ini didukung dengan selalu bersikap positif, berperilaku produktif dan
kontributif.
5. Ciptakan lingkungan yang
mendukung dengan mencari guru expert, spiritual dan guru kehidupan.
Bersahabatlah dengan orang-orang yang positif, kemudian buatlah kelompok mastermind,
yaitu jaringan untuk saling mencurahkan ide, memecahkan masalah, saling
mendukung dan memotivasi.
Gramedia mengkategorikan buku ini sebagai work book, artinya para pembaca diberi “tugas tambahan” setelah membacanya yaitu menuliskan “proposal hidup” diatas dua setengah halaman yang ada di halaman 18, 19 dan 20. Selain itu, pembaca juga diminta untuk mengisi sebuah tabel yang terdiri dari 3 bagian yaitu Kegiatan yang dikuasai, Kegiatan yang Dicintai dan Kegiatan yang Menghasilkan di halaman 38. Dan tugas terakhir dan paling menantang adalah pembaca diminta membuat target 90 hari selama 4 triwulan di halaman 65-68. Semoga bisa mengaplikasikan buku ini.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Postingan Favorit
-
Nama Allah al-'Afuww,al-Ghafur dan al-Ghaffar jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya sama yaitu Maha Pengampun. Tapi se...
-
Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki banyak fungsi. Selain sebagai petunjuk, obat, ia juga adalah sumber ilmu, terutama terkait ...
-
Untuk memahami makna La’allakum Tattaqun, kita harus mengamati penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur’an. Kata la’alla dipergunakan da...


