كَيْفَ يُشْرِفُ
قَلْبُ صُوَرِ الْأكْوَانِ مُنْطَبِعَةً فيِ مِرْاتِهِ؟ أمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إلى
الله, وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ؟ أمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ
اللهِ, وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جِنَابَةِ غَفَلَاتِهِ؟ أمْ كَيْفَ يَرْجُو
أنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأسْرارِ, وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ؟
Bagaimana mungkin
kalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cermin
nya?
Bagaimana mungkin
akan pergi menyongsong ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya?
Bagaimana mungkin
akan bertamu ke hadiratNya, sedangkan ia belum bersuci dari kotoran
kelalaiannya?
Bagaimana mungkin
diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari
kekeliruannya?
How can the heart
be illumined while the forms of creatures are reflected in its mirror? Or how
can it journey to God while shackled by its passions? Or how can it desire to
enter the Presence of God while it has not yet purified itself of the stain of
forgetfulness? Or how can it understand the subtle points of mysteries while it
has not yet repented of its offences?
Kajian kitab Hikmah yang ketiga belas ini adalah tentang beberapa kendala atau halangan yang menghambat perjalanan spiritual seorang hamba menuju Allah Sat.