Sunday, May 15, 2016

Saat Eza ke Pasar Malam





Pada hari Sabtu tanggal 7 Mei 2016, saat saya mudik bersama keluaga karena adanya libur long weekend dari hari Rabu, saya dan Eza serta ponakan, sempat mengunjungi pasar malam di daerah tempat orangtua saya tinggal di Ciawi Tasikmalaya. Pasar yang rutin diadakan setiap musim liburan tiba, tak pernah sepi pengunjung. Berbagai lapisan masyarakat dari berbagai desa dan kampung, berdatangan untuk mencari suasana baru, area bermain murah meriah dan berbagai produk yang harganya terjangkau. Dengan tiket masuk hanya 2000 rupiah, tentu masyarakat antusias berbondong bondong mendatangi pasar malam ini, walaupun untuk bermain di berbagai arena bermain harus membayar lagi, tapi kalau hanya berjalan-jalan dan melihat-lihat barang yang dijual, tentu merupakan hiburan tersendiri bagi massyarakat.

Saya dan keluarga mendatangi pasar malam ini, pukul 4 sore. Karena besok pag harus kembali ke Tangerang, maka sore ini kesempatan satu-satunya yang bisa digunakan berhubung kalau malam hari biasanya Eza dah tidur. Saya dan Eza bersama 2 ponakan saya, sempat naik kuda-kudaan dan becak yang berputar seperti layaknya arena bermain anak di tempat lain. Sayangnya Eza belum berani sendiri, jadi terpaksalah saya juga naik menemani Eza. Awalnya tampak asyik, tapi ko lama-lama jadi pusing, semakin diputar semakin pusing. Untunglah durasi waktunya ga terlalu lama, jadi selamat saya dari kepusingan berkepanjangan.

Saat Family Gathering Berbuah DoorPrize TV






Pada hari Ahad tanggal 1 Mei 2016, sekolah tempat saya mengajar, mengadakan kegiatan family gathering di Ocean Park, BSD Serpong. Seluruh karyawan dan keluarganya berkumpul bersama untuk bersilaturahmi, senang sekali bisa bertemu dan berkenalan dengan sebagian besar keluarganya. Ada yang baru ketemu isttrinya, ada yang anaknya baru lahir, ada yang anaknya ga ikut karena sudah kuliah dan bekerrja. Dulu saat belum menikah, rasanya malas sekali kalau ada acara family gathering, menyaksikan teman teman dan keluarganya berrcengkerama itu rasanya campur aduk. Mungkin tidak siap juga dengan pertanyaan, kapaaan? Maka saya dapat memahami jika ada beberapa orang yang tidak hadir, pasti bukan karena mereka tidak mau tapi mereka ingin memberi ruang buat dirinya sendiri atau yang sudah berkeluarga sudah memiliki agenda lain.

Saya berangkat dengan Eza dan papanya menggunakan motor karena mobil sedang dipinjam, mba pengasuh juga ikut sekaligus refreshing. Kami berangkat jam 8, padahal acaranya dimulai jam 8 juga, tapi karena ini acara keluarga dan tidak semua keluarga rumahnya dekat jadi pasti akan menunggu kumpul semuanya. Benar saja, saat tiba disana, sudah ramai sih tapi belum hadir semuanya. Kami pun berkenalan dan mengajak main anak-anak supaya saling kenal.

Saturday, May 14, 2016

Resensi Buku: Etape, Biarkan Aku Memberikan Yang Terbaik




 

Judul                : Biarkan Aku Memberikan Yang Terbaik

Penulis             : Tim Eisthera Gritanefic

Penerbit           : Eisthera Gritanefic

Terbit              : 2015

Tebal               : 322 halaman

 

Buku ini merupakan karya siswa kelas XII tahun pelajaran 2015/2016 yang memiliki nama angkatan Eisthera Gritanefic. Buku Etape ini terdiri atas 5 jilid yang diklasifikasikan berdasarkan tema besar. Judul buku ini diambil dari salah satu judul tulisan dalam buku ini, satu dari 24 yang ditulis oleh 24 penulis berbakat dari siswa kelas XII.

 

Buku ini terdiri dari 24 judul yaitu Seperti Roda yang Berputar, Magnitudo Mutlak -4.99, Sebuah Keyakinan, Uang tidak Sama dengan Bahagia, Sebuah Nama dan peristiwa, Aku dan Impian, Mimpi Harapan dan Perjuangan, Dirinya yang kukagumi, Biarkan Aku Memberikan yang Terbaik, Impian Rana, Kebenaran, Akulah Putra Terpilih, Aku Percaya, Berawal dari Bintang, Jujur Izin Khusus, Nekropolis, Kucing Masjid, Aku Hanya Belum Tahu, Kuasa-Nya, Kronika FDD, Terima Kasih Pengemis Tua, Teman Surga?, Di Negeriku pun Aku Tertindas, Kekuatan Jiwa.

 

Buku ini sebagian besar berkisah tentang mimpi dan harapan. Ada yang menggantungkan mimpinya untuk dirinya sendiri, ada yang untuk orang tuanya, ada juga yang mengisahkan mimpi orang lain. Beberapa kisah malah terasa “berat” karena memperbincangkan agama lewat perdebatan dan perbandingan dengan agama lain. Sesungguhnya hal itu mencerminkan kecerdasan intelektual dan spiritual penulisnya. Saya kagum dengan karya siswa SMA ini, beberapa pemikiran dan refleksi dirinya sudah sangat mendalam dan “matang”. Dulu saat saya SMA, saya tak sebaik dan secerdas mereka. Saya sungguh iri sama kalian …

 

Postingan Favorit