Monday, August 7, 2017

Berangkat Haji hanya dengan 100.000?? Bisa... (Bagian Pertama)



Berawal dari Mimpi, Langsung Beraksi

Saat saya kuliah, saya sempat “menyimpan” mimpi ingin berangkat haji di usia muda. Rasanya indah sekali jika saya bisa melihat kabah, mengunjungi makam Rasulullah Saw saat saya masih muda dan kuat untuk berpetualang. Saya ingin, travelling pertama saya adalah ke Mekah. Sebenarnya, awalnya saya ingin menunaikan umroh Ramadhan, yang pahalanya sama dengan haji. Tapi setelah berkonsultasi dengan mamah dan seorang ustadz di Tasik, sebaiknya saya menunaikan ibadah wajib dulu sebelum ibadah sunnah. Maka saya pun mulai bermimpi untuk berhaji. Saya lulus kuliah tahun 2000. Langsung hijrah ke Tangerang untuk membantu menjalankan usaha orangtua. Dan saya mulai menyebarkan lamaran kerja ke beberapa sekolah untuk mengajar. Alhamdulillah saya resmi bekerja di tahun 2001.

Saat saya bekerja di tahun 2001 dengan pendapatan sekitar 500.000 rupiah, hal pertama yang saya fikirkan adalah membuka tabungan haji. Saya mencari informasi dulu dari beberapa sumber, karena saat itu belum banyak bank yang membuka produk tabungan haji. Baru pada tahun 2002 lah saya mendatangi bank untuk mewujudkan mimpi saya. Saat itu, saya ingat bank syariah yang baru ada hanyalah Bank Muamalat. 

Saat saya datangi bank itu, saya ditanya security tentang keperluan saya kesana, saya jawab saya ingin membuka tabungan haji. Lalu saya dipersilakan mendatangi bagian Customer Service (CS). Maka terjadilah percakapan berikut,

CS        : Ada yang bisa dibantu, Bu?

Saya     : Saya mau membuka tabungan haji, mba...

CS        : Mba mau berangkat haji tahun berapa?

Saya     : Saya ga tau mba berangkatnya tahun berapa

CS        : Kalau mba memberitahu kapan ingin berangkat hajinya, nanti saya buatkan simulasinya sehingga diketahui nanti berapa yang harus ibu bayar perbulan nya.

Saturday, July 29, 2017

Day 10 Cinta Matematika : Belajar Menggunting (Bangun Ruang)



Setelah berbagai permainan dilakukan bareng Eza untuk mengenal matematika, kemarin saatnya melatih motorik halusnya. Saat di rumah, dan melihat ada gunting nganggur, saya langsung punya ide, bikin gambar bangun ruang di kertas, trus Eza belajar menggunting sesuai garis yang ada di gambar.

Saya siapkan kertas dan spidol, trus saya gambar 3 bentuk bangun ruang, yaitu segitiga, lingkaran dan segi empat. Lalu saya bilang sama Eza,

“mas, ini namanya segitiga, ini namanya lingkaran, ini namanya segi empat, coba mas tebak ini namanya apa (sambil saya tunjuk bentuk lingkaran)”

“lingkaran,” jawab Eza

“kalau ini? (sambil saya tunjuk segiempat)”

Eza mulai kelihatan bingung, iyalah usia segitu belum saatnya juga memahami bangun ruang, niat saya hanya akan memperkenalkannya.

Lalu saya ulangi lagi, ini segiempat, ini segitiga sambil saya tunjuk gambar segitiga.

Friday, July 28, 2017

Day 9 Cinta Matematika : Melihat Kereta, Mengenal Panjang dan Pendek




Akhir-akhir ini saya sibuk sekali dengan berbagai urusan koperasi, mulai dengan rapat pengurus koperasi dengan pengawas, lalu koordinasi pengurus dengan para karyawan koperasi, mengurus buku dan seragam, sampai rasanya kaki ini dah keriting deh karena bolak balik kesana kemari. Untungnya tiap hari saya sempatkan ajak Eza keluar untuk main, entah itu untuk naik perosotan, atau hanya melihat-lihat kereta di stasiun Rawabuntu atau hanya sekedar jalan bermotor ria.

Kemarin saya ajak Eza ke stasiun Rawa Buntu untuk melihat-lihat kereta, senangnya minta ampun, walau saat difoto tetap saja cemberut hihi. Sambil Eza melihat dan mengamati kereta yang lewat, saya tanya

“mas, kereta itu panjang atau pendek?”

“panjang” jawabnya...

“Yeah betul, kalo pendek kaya apa?”

Sambil saya contohkan dengan isyarat tangan, pendek itu segini, kalau panjang itu tangan lebar seperti kereta panjanng...

Alhamdulillah Eza sudah faham konsep panjang dan pendek. Setelah itu saya ajak dia main perosotan dan ayunan. Sayangnya ga sempet mengabadikan momen saat di perosotan karena Eza minta ditemenin main ayunan dan didorong kencang ayunannya. Itu saja main segitu, sudah membuat Eza seneng banget. Padahal menurut saya main segitu ga ada seru serunya. Inilah yang menjadikan standar seru menurut anak dan menurut orang tua itu berbeda. Maka yang harus ngalah adalah yang gede, kita harus memposisikan jika kita harus menjadi anak kecil, maka mainan seperti apakah yang bikin seru? Nah ittulah yang harus dieksekusi. Baiklah... bunda siap bermain...

Karena matematika itu menyenangkan dan mari belajar matematika dengan bermain...

Jumat, 280717.05.35
#Day9
#GameLevel6
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#IloveMath
#MathAroundUs
#odopfor99days#semester2#day52

Postingan Favorit