Saturday, March 26, 2016

Rapat Anggota Tahunan (RAT): Amanah Berat itu bernama Jabatan

 

Pada tanggal 12 Maret 2016, koperasi di sekolah kami yang bernama KOPINMA (Koperasi Insan Mandiri) baru menyelenggarakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) untuk tahun buku 2015. Ada fenomena mengejutkan pada RAT kali ini, karena laporan pengurus dan BPK (Badan Pengawas Koperasi) tentang adanya masalah di bidang keuangan. Sayang sekali, kepengurusan yang telah berjalan 3 tahun ini berakhir dengan situasi yang kurang mengenakkan.

 

Selain laporan pengurus dan BPK, RAT kali ini juga diakhiri dengan pemilihan pengurus baru untuk periode 3 tahun ke depan yaitu tahun 2016-2018. Lucunya, jabatan sekretaris yang diungguli oleh salah seorang guru Biologi, diwarnai dengan adanya surat pengunduran diri dari yang bersangkutan. Semuanya merasa terheran heran dan terasa lucu karena bakal calon belum diumumkan, tapi yang bersangkutan sudah mengetahui akan terpilih dan langsung memilih mundur.

 

Memang, dilema tersendiri bagi kepengurusan mendatang. Adanya warisan masalah di bidang keuangan yang mengagetkan semua pihak, memunculkan keengganan para anggota untuk menjadi pengurus koperasi di periode mendatang. Keinginan anggota untuk mendapatkan SHU (Sisa Hasil Usaha) yang tinggi, tak diimbangi dengan antusiasme anggota untuk menjadi bagian dari barisan pengurus yang mau berjuang demi kepentingan banyak orang.

 

Saya sendiri harus rela dengan terpilihnya menjadi bendahara, walau hanya mengantongi 17 suara dari sekitar 100 orang anggota koperasi. Berat sebenarnya harus memperbaiki sistem keuangan di koperasi. Andai ingin berfikir aman dan hanya memikirkan diri sendiri, rasanya mending jadi anggota yang tak perlu cape memikirkan strategi bisnis di koperasi. Tapi saya melihat semuanya enggan menjadi pengurus. Maka berbekal dari keyakinan bahwa selalu ada jalan bagi yang mau berusaha, saya pun istikharah. Sudah beberapa minggu sebelum RAT, saya dengar gosip gosip bahwa saya digadang gadang jadi bendahara. Sejak mendengar gosip itulah, saya langsung shalat istikharah. Saya tidak mau memutuskan hanya karena emosi pribadi. Saya ingin Allah yang memutuskan baiknya gimana, bukan saya. Karena saya sungguh tak tahu yang terbaiknya itu harus bagaimana. Maka saya pun meminta petunjuk lewat istikharah. Dilanjutkan dengan konsultasi suami. Suami pada akhirnya menyerahkan keputusan itu pada saya sepenuhnya.

 

Berbekal pengalaman menjadi bendahara koperasi ini pada tahun 2007-2008 yang saat itu SHU nya alhamdulillah sangat fantastik, mungkin para anggota ingin mengulang kejayaan masa lalu. Walau dengan tim yang berbeda, dan harus diiringi dengan sulitnya mencari sekretaris yang mau berjuang, dengan mengucapkan bismillah saya pun mengikuti saja kemana arus ini mengalir. Jika jabatan bendahara ini baik untuk saya dan maslahat untuk yang lainnya, baiklah saya akan berjuang di jalan ini. Hanya yakin dengan pertolongan Allah lah saya kuat dan mau menerima amanah berat ini. Saat ada yang mengucapkan selamat atas jabatan ini, saya malah mengatakan pada mereka, bahwa seharusnya kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” lah yang seharusnya diucapkan. Karena sungguh, jabatan itu amanah yang berat dan awal musibah bagi saya karena sangat berat pertanggung jawabannya. Tapi saya berharap bahwa saya punya ladang amal yang bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang, walau dalam lingkup kecil bernama koperasi. Bantu saya, bantu kami, Rab ...

 


No comments:

Post a Comment

Postingan Favorit