Showing posts with label Parenting Anak. Show all posts
Showing posts with label Parenting Anak. Show all posts
Wednesday, February 23, 2022
Thursday, July 20, 2017
Day 1 Cinta Matematika : Mengenal Angka
Materi keenam ini adalah tentang
matematika di sekitar kita. Seru dan menantang materi dan game nya. Sebenarnya
Eza sudah lama dikenalkan dengan matematika, secara tidak sadar, kadang sambil
naik motor saya ajak dia menghitung kerbau yang terlihat di jalan yang sering
dilewati, menghitung mobil, belajar bentuk, dan lain-lain.
Saya seringkali mengajak dia naik
motor baik jarak jauh maupun jarak dekat, sejak Eza berusia 2 tahun. Biasanya
Eza ngantuk kalau dibawa bermotor ria dalam jarak waktu yang jauh. Maka saya
sebisa mungkin mengajak dia ngobrol, memperdengarkan surat-surat pendek dalam
Al-Qur’an, dan mengenalkan ia dengan angka-angka. Kadang saya perdengarkan
angka 1-10 dalam bahasa Indonesia, di waktu lain dalam bahasa Arab dan juga
bahasa Inggris. Awalnya saya iseng saja biar dia tidak ngantuk. Ternyata
efeknya lumayan dahsyat, ia cepat hafal.
Kemarin pagi, seperti biasa kami
lewat jalan yang sering menjadi lapangan tempat makannya para kerbau. Saya ajak
dia menghitung kerbau,
“Mas, coba lihat, kerbaunya ada
berapa?”
“Ada dua bunda”, jawabnya.
Saya cek kerbau yang ada di lapangan
itu, memang benar hanya ada dua. Setiap hari jumlah kerbau yang ada memang
berbeda-beda.
Wednesday, July 19, 2017
Ketika Eza Minta Maaf dan Hukuman untuk Bundanya
Pernahkah anak kita minta maaf saat
berbuat salah? Mudahkah kita memaafkannya? Bagaimana akibatnya saat seorang ibu
sulit memaafkan anaknya? Bagaimana perasaan sang bunda saat harus menerima balasan
yang datang secepat kilat karena tak mudah memaafkan anaknya yang setulus hati
meminta maaf padanya.
Minggu-minggu ini saat asisten rumah
tangga belum datang karena sedang menikmati bulan madu setelah pernikahannya
minggu lalu, saya banyak menghabiskan waktu bersama Eza. Sambil mengerjakan
pekerjaan rumah, saya mengamati Eza bermain. Kadang dia anteng bermain bersama
teman-temannya, kadang juga pengen bareng bundanya di rumah.
Kemarin, hari Selasa saya sampaikan
pada Eza bahwa siang setelah dhuhur, agenda kegiatan kami adalah pergi ke
bandara untuk mengantar teman dan siswa yang akan berangkat ke Jepang sekaligus
saya suntik meningitis di rumah sakit bandara. Eza tampak senang sekali saat
diberitahu akan ke bandara dan melihat pesawat. Sambil menunggu, saya kerjakan
sesuatu sementara Eza saya biarkan bermain balok di karpet, ternyata dia
tertidur. Pukul setengah 12 dia sudah bangun, tak lama setelah papanya datang
dari sekolah.
Saat adzan dhuhur berkumandang, saya
minta Eza ikut sholat dhuhur bareng kami secara berjamaah. Ternyata ia tak mau,
duduk saja di kursi. Saya “ancam” dia, kalau ga sholat maka tidak akan diajak
ke bandara, bisa ditebak ia pun menangis. Sepanjang saya dan suami sholat
dhuhur, ia tak henti menangis. Tidak mau ikut sholat, tapi juga tetap mau ikut
bundanya ke bandara. Usai sholat, dia pun tak mau lepas dari pangkuan saya, saat
saya membereskan mukena dan sajadah, ia tetap menangis.
Saya acuhkan dia, dia terus mengejar
saya untuk minta maaf. Eza peka sekali perasaannya, ia bisa merasakan kalau
saya marah. Biasanya kalau marah saya diam saja, dan dia tersiksa sekali kalau
saya diamkan. Eza masih menangis, saya bersiap-siap memakai kerudung, ia terus
meminta maaf dan minta salim dan baikan, saya pun menyambutnya, membiarkan dia
salim dan baikan dengan adu kelingking, tapi saya tetap diam. Ternyata dia tahu
dan bisa merasakannya. Hebat sekali ya jiwa anak itu, walaupun saya sudah
menyambut permintaannya untuk minta maaf dan baikan, ia tetap bisa merasakan
kalau saya masih marah.
Lalu, ia pun mendatangi papanya,
curhat dan lapor, kalau bahasa kita mah. Papanya menasehatinya dan memediasi
saya dan Eza, haha lebay banget. Kalau ingat sekarang, rasanya malu yah saya
sebagai seorang ibu tak bisa menahan emosi terhadap anak yang masih berusia 3,5
tahun. Sebenarnya diam saya itu dalam rangka menahan diri supaya tak keluar
kata-kata yang tak baik dari mulut saya. Saat papa Eza menghampiri saya dan
bilang, “Bunda, nih mas Eza mau minta maaf”, akhirnya saya pun luluh. Saya
memaafkannya dan kembali ngobrol baik-baik dengan Eza. Kami pun pergi ke
bandara dan menyelesaikan urusan suntik meningitis yang ternyata cepat sekali,
tak sampai setengah jam, urusan suntik meningitis pun beres.
Sepulang dari bandara, saya tiba
kembali di rumah pukul setengah 4 sore. Sambil beristirahat, tiba-tiba saya
ingat satu hal, bahwa saya lupa menyimpan passport dan buku kuning suntik
meningitis milik siswa saya yang sudah diberikan hari Senin kemarin. Saya cari
di rumah, di kantor, di kamar teman, dimana-mana, tak saya temukan. Saya pun
banyak beristigfar, hingga malam hari saya tak kunjung menemukannya.
Saturday, July 8, 2017
Ruang Bahagia Anak dan DUA Kakek Neneknya
Saat perjalanan pulang mudik dari
Tasik dan Kudus, saya iseng bertanya pada Eza,
“Mas, enakan mana, pulang ke Tasik
atau ke Kudus?”
Eza bilang, “Dua duanya. Tasik dan
Kudus”
Suami langsung memuji jawabannya
yang tak kita duga. Saya fikir dia akan memilih salah satunya, ternyata
jawabannya sangat cerdas, memuaskan dan sesuai harapan kami, yaitu dia nyaman
dan dekat kepada dua kakek neneknya..
Yang harus saya syukuri saat Eza
lahir adalah dia masih memiliki kakek neneknya lengkap dari kedua belah pihak
yaitu mbah ti dan mbah kus dari pihak suami dan mamah abah dari pihak saya. Eza
memiliki keluarga lengkap adalah merupakan anugerah terindah yang akan dikenang
sepanjang hidupnya.
Sejak awal, saya dan suami sepakat,
kalau kami punya anak, maka ia harus memiliki kesempatan yang sama untuk dekat
dengan kedua kakek neneknya. Tidak diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk
dekat pada salah satunya. Konsekuensinya memang biaya yang harus disiapkan
untuk mudik, itu sangat banyak karena harus melintasi 4 provinsi yaitu Banten,
DKI, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Perjalanan BSD Tangsel, Tasik dan Kudus
bukanlah perjalanan dekat, tapi harus ditempuh dengan ratusan kilometer yang
juga menuntut stamina prima, baik kami sebagai penumpang, apalagi suami sebagai
supir.
Awalnya saya takut, Eza jadi
kecapean dan sering sakit, tapi ternyata sebaliknya, niat silaturahmi yang kuat
dibayar Allah dengan kuatnya badan Eza dan kami orang tuanya, hingga setiap
tahun kami bisa meluangkan waktu untuk mudik ke Tasik dan Kudus secara
bergantian. Kami memutuskan untuk bergiliran lebaran, tahun kemarin lebarran
hari pertama di Kudus, maka tahun ini lebaran hari pertama nya di Tasik. Ini
menggembirakan kakek neneknya karena punya kesempatan untuk dekat dengan
cucunya dan silaturahmi ke saudara dan tetangga pada hari pertama dan kedua
lebaran.
Wednesday, June 14, 2017
Pohon Literasi Day 7 : Ayo Marah
Setelah peristiwa kemarin yang
memancing kemarahan si bunda pada Eza dan papanya juga neneknya, si bunda
merasa bersalah. Ia pun langsung melalap habis buku berjudul “Ayo Marah, Buku
Komplit Manajemen Marah” karya Irawati Istadi yang diterbitkan tahun 2010. Seingat
saya, sudah lama sekali buku ini dibeli tapi belum tergerak untuk membacanya,
maka buku ini pun masih bersampul rapih, tersimpan utuh di lemari perpustakaan
mini keluarga kami.
Buku ini bukan mengajarkan untuk
marah, tapi untuk memahami penyebab kemarahan dan cara mengendalikan kemarahan
itu seperti apa. Buku ini juga membolehkan kita marah jika penyebab dan caranya
serta tujuannya jelas. Buku ini terbit dilatar belakangi pengalaman penulisnya
yang trauma dengan anak sulungnya saat berusia 5 tahun yang menduplikasi cara
ibunya marah. Sejak saat itulah, sang penulis bertekad untuk belajar cara
mengatasi kemarahan dengan tepat.
Buku ini terdiri dari 7 bagian yaitu
Bagian 1 : Marah dan Kemarahan di Sekitar Kita
Bagian 2 : Munculnya Kebiasaan Marah
Bagian 3 : Cara Marah yang Benar dan Efektif
Bagian 4 : Meredakan Kemarahan Suami Istri
Bagian 5 : Mengatasi Kemarahan Orangtua kepada Anak
Bagian 6 : Lebih Positif di Tempat Kerja
Bagian 7 : Meminimalkan Kemarahan di Sekolah
Setelah minum kopi dan tak bisa
tidur lagi, saya memanfaatkan waktu dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan
yang sempat terbengkalai seperti membereskan pembukuan keuangan koperasi,
menyelesaikan tugas bunda sayang sebagai fasilitator dan menyelesaikan buku
yang biasanya agak sulit jika dilakukan siang hari yang padat aktivitas.
Alhamdulillah tak sampai satu jam,
buku ini sudah saya lahap habis, saking besarnya keinginan saya untuk
memperbaiki cara saya marah. Selain marah yang negatif, ternyata sang penulis
melihat sisi lain diperbolehkannya marah yaitu saat marah menjadi satu-satunya
cara untuk membuat seseorang menyadari kesalahannya. Sementara marah yang
destruktif dengan membanting atau melibatkan aktivitas fisik, itu bukan cara
yang baik untuk mengatasi kemarahan.
Pada bab satu dibahas tentang
mengapa harus marah, efek negatif marah dan bahkan ternyata marah ini seperti “penyakit
menular” yang bisa membuat anak meniru cara orangtuanya marah. Sementara pada
bagian 2, dipaparkan tentang munculnya kebiasaan marah, bahwa ternyata marah
itu bukan bersifat genetis, tapi merupakan dampak dari pola asuh. Pola asuh
yang diterapkan oleh orang tua adalah pemeran utama yang patut disalahkan atas
tumbuhnya kebiasaan marah pada anak (hal. 37) dan itu bermula dari 5 tahun
pertama kehidupan sang anak yang dikenal dengan “Golden Age”.
Kemauan dan
kemampuan otak anak dalam menerima informasi di usianya yang masih balita ini
ternyata jauh lebih hebat dari apa yang seringkali dibayangkan dan dipahami
orang tuanya (hal. 39). Dan beberapa faktor pemicu kemarahan masa golden age
yang harus difahami orang tua adalah Egosentrisme dan meniru orang lain.
Tuesday, June 13, 2017
Pohon Literasi Day 6 : Bunda Jangan Marah
Pada hari Sabtu kemarin tanggal 10
juni 2017, mamah datang berkunjung ke Serpong karena mba nya mudik di hari
Jumat untuk mempersiapkan pernikahan. Hiks akhirnya hari itu datang juga, saat
mba ART di rumah akan melangsungkan pernikahan, itu berarti saya harus
siap-siap tak bergantung pada si mba, (bergantung harusnya pada Allah saja ya).
Walaupun mba nya masih pengen tetap bekerja setelah menikah.
Mamah pun harus mengungsi dari Tasik
ke Tangerang karena saya dan suami masih kerja sampai hari Sabtu besok. Hari
Sabtu kemarin juga sekalian buka puasa bersama bareng keluarga besar di tempat
saya di Serpong karena mamah sedang ada bersama saya. Setelah rempong dengan
urusan buka bersama, hari Ahad nya saya ajak mamah jalan-jalan ke Lotte Mart
untuk persiapan mudik ke Kudus, ke Parade Fo untuk membeli baju Eza dan ke ITC
untuk membeli baju Eza dan membeli kerudung mamah.
Saat di lotte mart, Eza sudah mulai
beraksi, pengen beli es krim, tidak saya ijinkan trus dia merayu mamah dan
berhasil, mamah langsung membelikan es krim. Saya tahan tahan untuk tidak
marah, saya sebenarnya pengen membuat Eza belajar menahan diri, tak langsung
memenuhi semua keinginannya karena khawatir berdampak panjang hingga besar
nanti. Di lotte mart saya tak berhasil, padahal saya sudah berikan pemahaman
pada Eza yang masih berusia 3,4 tahun.
Di tempat berikutnya saat mencari
baju di sebuah factory outlet, papanya memperlihatkan topeng, Eza pengen. Saya
sudah jelaskan tujuan awal datang kesini adalah untuk membeli baju, bukan
membeli topeng. Mulailah Eza beraksi lagi, merayu mamah dan suami agar
mengabulkan keinginannya. Saya sudah berusaha melarang suami dan mamah untuk
tak mengabulkan keinginannya, tapi mamah luluh juga, tak tega untuk membelikan
topeng yang harganya “hanya” 60.000. Sebenarnya saya tak masalah dengan
harganya, tapi saya tak suka dengan cara Eza yang meminta terus dan selalu
pengen langsung dipenuhi keinginannya. Saat akhirnya topeng itu dibeli, saya
MARAH, marah sekali. Entah marah pada Eza, pada suami atau pada mamah, saya
kesal.
Semua usaha saya untuk memberikan pemahaman pada Eza, merasa tak
didukung dan harus berjuang sendiri. Anehnya Eza bisa tau dan merasakan bahwa
saya marah, dia tak berani menatap saya, apalagi saat perjalanan dari factory
outlet itu, saya bungkam, aksi tutup mulut saya jalankan, saya khawatir
mengeluarkan kata-kata yang kasar dan tak bisa mengendalikan diri.
Friday, June 9, 2017
Pohon Literasi Day 2 : Dongeng Sebelum Tidur
Tantangan bagi anak laki-laki usia
3,5 tahun dalam mengajak membaca adalah lagi senang-senangnya bermain sama
teman-temannya. Eza senang sekali bermain sama teman-temannya deket rumah, baik
itu main sepeda, main mobil-mobilan atau sekedar pada ngumpul ga jelas juga
sudah membuat mereka bahagia.
Dulu, Eza rutin tidur siang, jam
satu siang pasti sudah merem. Sekarang, bisa tidur jam 2 siang itu udah bagus
banget. Karena teman-temannya kadang datang ke rumah, trus ia lebih senang main
bersama dibanding tidur. Padahal sorenya juga bermain. Kalau tidak tidur siang,
biasanya sorenya jadi rewel. Maka walaupun cuma setengah jam, biasanya Eza
sudah harus masuk rumah pukul 2 siang.
Setelah ashar, mereka main lagi.
Lari-larian, petak umpet, sepedaan dan lain-lain. Satu sisi senang sih karena
Eza bisa cepat bersosialisasi, lelaki sejati deh ga betah di rumah, maunya
eksplorasi macam-macam. Tapi sisi lain, jadi harus berjuang keras untuk
mengajaknya membaca. Gaya belajar kinestetik Eza memang masih dominan, maka dia
tak betah kalau dibacain buku, diam duduk manis gitu. Berapa menit kemudian,
pasti udah lari dan kabur haha.
Kesempatan yang sering saya
manfaatkan adalah sebelum tidur, saya simpan beberapa jenis buku di kasur,
sebelum tidur dia pasti melihat buku. Walaupun buku yang dipilih tetap sama,
yaitu dusty trus kisah ikan Nabi Yunus (sampe bosen deh emaknya nyeritain),
tapi yang penting tiap hari Eza harus berinteraksi sama buku. Baca nya baru bisa
buku itu lagi itu lagi, mungkin karena emaknya mati gaya dalam mengenalkan buku
jenis lain.
Dan perjuangan baru saja dimulai,
hari ini hanya sempat membacakan buku yang dia sukai sebelum tidur, sedangkan
emaknya masih mengkhatamkan buku Bunda Sayang hehe belum tamat tamat juga
karena prakteknya tak semudah teorinya.
Suami juga ternyata type nya lebih
seneng audio. Dia jarang baca buku tapi lebih sering download ebook atau video ceramah sebagai bahan dia
mencari ilmu. Buku masih numpuk di perpustakaan keluarga kami, tapi melumat
habis semua buku ini, masih butuh perjuangan dan kerja keras. Jadi hari ini
hanya Eza dan si bunda yang bisa nempel daun di pohon literasi. Semoga besok
papanya Eza bisa ikut gabung.
Semoga Bermanfaat
Jumat, 090617.13.30
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#Day2
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst
#odopfor99days#semester2#day27
Thursday, June 8, 2017
Pohon Literasi Day 1 : Menyiapkan Pohon Literasi Al Zayyan
Materi 5 di kelas bunda sayang ini
adalah tentang Menstimulasi anak suka membaca. Sejak kecil, sebenarnya Eza
sudah biasa dibacakan cerita. Tapi ko makin gede, saat udah kenal bermain trus
sama mba nya dikenalkan Upin Ipin, minat bacanya jadi menurun drastis nih. Perlu
perjuangan keras lagi dari si bunda untuk mengembalikan minat baca Eza.
Maka langkah pertama adalah
menyiapkan pohon literasi. Saya ajak si mba yang ngasuh, untuk menyiapkan pohon
literasi. Awalnya dia bingung, tapi pas saya perlihatkan contoh dari
teman-teman fasilitator bunda sayang, baru deh dia kebayang. Beberapa hari yang
lalu, saat kami jalan-jalan sore usai berkunjung ke rumah guru ngaji, saya
sempatkan beli bahan perlengkapan untuk membuat pohon literasi. Alhamdulillah si
mba nya semangat bikin malem-malem.
Saking semangatnya, itu pohon
ditambahin gambar kupu-kupu, gambar bebek dan lain-lain. Dan tahukah tanggapan
Eza saat melihat pohonnya ditempel? Eza bilang, “Bunda, aku suka pohonnya,”
Yeayy. Saya minta dia berterima kasih sama mba nya yang sudah membuatkan pohon
literasi. Saya mencoba membiasakan kata maaf dan terima kasih pada Eza agar ia
terbiasa meminta maaf dan berterima kasih atas anugerah apapun yang
diterimanya.
Monday, May 1, 2017
Day 8 : Mengamati Gaya Belajar Eza
Pagi hari di hari ke-8 pengamatan
gaya belajar Eza, setelah shalat subuh, saya Eza dan mbak nya pergi naik kereta
ke Balai Kartini Jakarta untuk mengikuti Sweety Baby Dance. Eza belum bangun menjelang
pergi, karena acaranya jam 6 pagi, maka kami berangkat pukul 5.30 menuju
stasiun Rawabuntu, trus berhenti di Stasiun Palmerah, disambung dengan grab
menuju Balai Kartini. Kami tiba disana pukul 6,30, untungnya acaranya belum
dimulai.
Acara ini merupakan acara Sweety
Baby Dance Mother and Baby Fair, yang diselenggarakan dalam rangka promosi
produk baru Diapers Sweety dengan cara mengundang beberapa komunitas,
diantaranya komunitas Twins Indonesia, Institut Ibu Profesioanl (IIP) dan
lain-lain. Saya dari komunitas IIP bersama teman-teman lain, datang sebanyak 7
orang. Selain mendapat goodie bag, konsumsi dan ilmu tentang baby dance, juga
mendapat uang transportasi. Lumayan lah buat emak emak mah.
Acara ini juga dihadiri oleh
Sarwendah sebagai ambassador produk sweety. Sempet juga nih iseng difotoin sama
si mba, ternyata Sarwendah mungil dan cantik euy. Ini fotonya.
Friday, April 28, 2017
Day 5 : Mengamati Gaya Belajar Eza
Hari kelima ini, saya baru sempat
bermain sama Eza setelah shalat Jumat tadi. Paginya saya belanja ke Tanah Abang
untuk oleh-oleh lebaran keluarga Kudus. Saat saya pulang dari Tanah Abang,
seperti biasa Eza nanya oleh-oleh. Saya kasih makanan dan baju, tadinya bajunya
pengen langsung dipakai saking senengnya, tapi setelah dibujuk untuk dipake pas
sore nanti, akhirnya mau juga. Setelah beres shalat dhuhur jamaah sama mba nya,
saya pun langsung main sama Eza.
Hari ini sesuai agenda, permainan
yang saya siapkan adalah mengenal angka. Kebetulan kemarin saya sudah beli
puzzle angka, Eza seneng banget pas dikasih mainan berupa puzzle angka,
walaupun setelah dibongkar, dia belum bisa masang lagi. Beberapa kali saya
pancing dengan mainan puzzle, Eza ga terlalu antusias, kenapa ya... mungkin
memang belum saatnya. Saat saya coba pandu dia untuk masang puzzle, eh dia
malah megang lap pel dan bergerak ngepel haha... kinestetiknya tersalurkan deh.
Seperti terlihat dalam gambar berikut. Agak buram, karena moment anak bermain
itu memang tak terduga dan cepat sekali, mengabadikannya pun harus cepat-cepat
karena momennya cepat sekali berganti.
Setelah itu si bunda memperdengarkan
bilangan 11-15, karena 1-10 dia sudah hafal dengan 3 bahasa yaitu bahasa Arab,
Inggris dan Indonesia. Kali ini saya berikan stimulus untuk auditorinya, dia
dengerin sih tapi sambil bercanda, misalnya saat saya bilang sebelas, dia jawab
“tiga belas”, maksud saya biar dia ngikutin apa yang saya perdengarkan,
ternyata dasar anak humoris, ada aja perilakunya yang bikin ketawa. Trus saat
saya bilang “dua belas”, dia bilang “lima belas” haha ya sudahlah mas semaunya
kamu aja asal kamu bahagia ...
Tuesday, April 25, 2017
Day 2 : Mengamati Gaya Belajar Eza
Dari tabel diatas, yang visual
ditandai dengan kotak warna merah, hanya satu dari tiga yang baru bisa teramati
yaitu menyukai hal-hal yang bersifat detail dan rapi. Saat saya atau mba nya
beberes rumah, Eza suka pengen ikut nyapu atau ngepel. Saat saya di ruang
atm, Eza suka mengambil kertas-kertas
yang berserakan di lantai untuk dimasukkan ke tempat sampah. Keren ga sih hehe.
Sementara untuk auditori yang
ditandai dengan kotak berwarna biru, tiga-tiganya masih belum ok, karena masih
tiga tahun jadi belum tereksplorasi semua. Sementara yang kinestetik pada kotak
berwarna ungu, hampir semua kotak itu sepertinya cocok dengan Eza. Saat belajar
shalat, Eza cukup melihat papa bundanya shalat, ia sudah bisa gerak gerak
ngikutin. Kalau diajak bermain outdoor seperti perosotan, ayunan dan lain-lain,
itu matanya berbinar binar sekali. Memang belum bisa disimpulkan juga kalau Eza
itu dominan kinestetik nya, saya masih harus memberikan stimulus sebanyak
banyaknya untuk merangsang potensi belajar Eza.
Mengamati gaya belajar Eza memasuki
hari kedua ini, membuat saya kembali pada masa lalu, stimulus apa saja yang
sudah saya lakukan untuk memberikan rangsangan pada seluruh potensi belajar
Eza. Sepertinya saya sudah berusaha memberikan stimulus pada semua jenis gaya
belajar, baik visual, auditori maupun kinestetik.
Tuesday, April 11, 2017
Eza, Sang Penakluk Air
Pada hari Sabtu tanggal
8 April 2017, saya mengajak Eza dan mbak nya di acara Homestay, program tahunan
sekolah kami untuk siswa kelas XI. Pembelajaran kehidupan bermasyarakat untuk
memupuk kesadaran sosial ini, rutin diadakan setiap tahun, dan tahun ini
diadakan pada tanggal 8-10 April 2017 di kampung Pesanggrahan, Purwakarta Jawa
Barat.
Mengajak anak saat
bekerja biasanya alternatif yang saya pilih supaya tak lama meninggalkan anak. Tentu
tak semua acara di tempat bekerja, saya bawa anak. Sebelum usia 2 tahun, saat
masih menyusui Eza, saya rutin mengajak Eza ke acara sekolah baik acara resmi
seperti rapat kerja, maupun yang non formal seperti homestay ini. Setelah Eza
berusia 2 tahun lebih, saya lebih selektif lagi mengajak Eza. Untuk acara
formal seperti rapat kerja, saya tak mengajak Eza, sementara untuk homestay,
saya pilih untuk mengajak Eza karena papa nya juga pergi dan rangkaian acaranya
memungkinkan saya untuk membawa Eza.
Saat berangkat naik bis,
Eza sudah senang banget. Sejak kecil, ia sudah terbiasa jalan jauh karena tiap
tahun harus mudik ke Tasik dan Kudus, ternyata ini menjadikan mental Eza kuat
saat harus mengikuti perjalanan jauh, bersyukur banget Eza jarang rewel saat
dibawa dalam perjalanan, baik saat harus menggunakan mobil, bis, kereta,
semuanya lancar jaya tanpa ada kendala yang berarti. Alhamdulillah.
Hari pertama acara
homestay, acaranya padat merayap. Siang hari, adalah keterampilan membuat
reginang dan gula aren. Sore harinya, tracking pengenalan alam sekitar lokasi
homestay. Eza tidak saya ajak karena ternyata saat mau berangkat, ia sudah
tertidur pulas karena kecapean. Hari kedua barulah saatnya Eza eksplorasi. Lokasi
yang strategis tak jauh dari air terjun, membuat si mba yang ngasuh, senang
banget ngajak Eza ke lokasi air terjun. Awalnya takut terjun ke dalam air,
lama-lama malah ga mau diajak pulang hihi. Kakak-kakak yang baik hati pun siap
membantu Eza untuk bereksplorasi dengan alam (seperti yang terlihat dalam foto diatas)
Thursday, April 6, 2017
Sang Pemadam Kebakaran Cilik : Walo Nyasar, Pantang Menyerah
Pada hari Selasa tanggal 4 April 2017, Eza sudah diikutsertakan jauh-jauh
hari untuk mengunjungi Pemadam Kebakaran bersama teman-temannya di Komunitas
Pancar. Komunitas Pancar ini adalah komunitas home schooling yang sering
mengadakan playdate bareng. Ini adalah kesekian kalinya Eza ikut aktivitas
playdate bareng teman-temannya.
Awalnya kegiatan ini akan dilaksanakan hari Senin tanggal 3 April 2017,
tapi berhubung ada kendala maka diundur menjadi hari Selasa tanggal 3 April
2017. Eza pun sudah diberitahu jauh-jauh hari tentang rencana kunjungan ke
pemadam kebakaran ini. Si mbak nya pun semangat menyiapkan perbekalan untuk
Eza.
Kami berangkat dari rumah di Serpong pukul 07.30 dengan mengendarai motor. Perjalanan
jauh menuju Pemadam Kebakaran Lebak Bulus, ditempuh dalam waktu 1 jam lebih 15
menit, sempat macet mulai dari Ciputat hingga Lebak Bulus, akhirnya kami tiba
disana pukul 08.45. Saat kami lapor ke petugas security, ditanya dari rombongan
mana, saya bilang dari rombongan tk dan gabungan komunitas. Seorang petugas
mencoba mengkonfirmasi bagian kunjungan, katanya tak ada jadwal kunjungan dari
TK untuk hari ini. Sempat bingung, saya pun koar-koar di grup komunitas pancar.
Tak lama kemudian, ada satu orang teman yang baru tiba di lokasi, dengan
membawa kedua anaknya, mba Titiek yang baru kenal pada saat itu, langsung dengan
ramahnya memperkenalkan diri. Dengan diantar suaminya dari Depok, kedua
putranya ini tampak sangat ngantuk dan kelelahan. Perjalanan yang ditempuh
nyaris selama 3 jam, tentu membuat kedua anak ini cape. Sambil ngobrol, kami
pun menengok grup. Tiba-tiba kami kaget saat ada yang mengingatkan bahwa
Pemadam kebakaran yang dituju, bukan yang di Lebak Bulus, tapi yang di Villa
Melati Mas, BSD, Tangerang Selatan. Mba Titiek pun bingung, setau kami rencana
awal memang di Lebak Bulus, kami memang tak melihat secara detail info pemberitahuan
terbaru. Hanya melihat tanggal, kami fikir tak merubah tempat, ternyata ih
ternyata saya dan teman saya kurang teliti. Untung ada teman, jadi ga malu
sendiri. Beginilah foto kami saat beraksi di Pemadam Kebakaran Lebak Bulus.
Berkah Hujan-Hujanan : Batuk dan Pilek pun Sembuh
Pada hari Sabtu tanggal
1 April kemarin, sepupu Eza nginap di rumah kami di Serpong. Dijemput pukul 2
siang dari angkot Kalideres Serpong, kami langsung ngebaso dan dilanjutkan
dengan pesta durian di rumah. Alhamdulillah perut kenyang, hati pun senang.
Sore hari, ternyata hujan turun sangat deras. Sepupunya Eza minta
hujan-hujanan, Eza pun ikut-ikutan. Sebenarnya lagi pilek tapi rasanya ga tega
mencegah Eza hujan-hujanan. Kami pun ijinkan dan siap dengan resiko terburuk.
Ternyata Eza dan
sepupunya seneng banget saat dibolehkan hujan-hujanan, wuah ekspresinya tertawa
lepas saat mereka main air, nyebur di kolam kecil, lari-larian di tengah hujan
deras. Bahkan, tetangga depan rumah yang punya dua anak cowo, tak tahan dan
tergoda pula untuk hujan-hujanan. Beberapa temannya pun ada yang mengintip dari
balik rumahnya. Mungkin pengen juga gabung hujan-hujanan, tapi sepertinya tak
dibolehkan oleh orang tuanya.
Menyenangkan sekali ya
melihat anak bahagia dan menikmati aktivitasnya. Kami hanya melihat, mengamati
dan tentu saja mengabadikan momen tersebut sebagai momen spesial. Setelah
selesai hujan-hujanan, Eza terlihat kedinginan, langsung mandi dan makan. Setelah
itu malah main lagi sama sepupunya. Ga ada matinya deh tenaga Eza itu.
Wednesday, March 29, 2017
Proyek Keluarga : Pembagian Peran Anggota Keluarga
Setelah sebelumnya proyek kedua ini berjalan secara
mendadak dan spontan, ceritanya disini, saya dan suami pun berbagi tugas. Saya
yang mengeluarkan buku dari lemari, suami yang mengelompokkan buku berdasarkan
kategorinya, apalagi sesama pecinta bahasa arab, banyak kitab berbahasa arab
yang belum dibaca. Hiks hiks suka dukanya beberes buku itu seru lho. Sukanya
saat menemukan buku baru, wuah senengnya, tapi sedihnya ternyata banyak sekali
buku buku bagus yang belum dibaca. Semoga suatu saat bisa menjadwalkan membaca
buku.
Setelah semua buku dikeluarkan, dan Eza sangat semangat
membantu menurunkan buku, pembagian peran dilakukan lagi. Si papa memasukkan
buku yang kategori Arab dulu ke lemari, secara dia yang lebih faham tentang
buku-buku berbahasa Arab. Saya memilih membereskan buku yang setelah dibantu
Eza, bukannya malah rapi tapi makin berantakan. Ya sudahlah yang penting dia
semangat berinteraksi dengan buku.
Saturday, March 25, 2017
Proyek Keluarga : Berbagi Pakaian Eza
Hari pertama proyek
sosial pertama adalah menyortir pakaian Eza. Sebenarnya Eza agak kurang fit
tapi anak kecil dimana mana sama, senangnya main, jadi walopun sakit tetap saja
mainnya aktif. Dari pagi sampai siang si bunda kerja, Eza sama papanya.
Siangnya kecapean, pada bobo siang dulu. Baru setelah ashar lah proyek nya
dilaksanakan.
Dari kemarin, saya sudah
sounding ke Eza kalau kita akan berbagi pakaian, entah dia mengerti atau tidak,
saya bilang bahwa baju dia yang kecil, akan kita pisahkan dari lemari. Dia sih
iya iya saja. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengeluarkan baju Eza dari
lemari, dan jadilah terkumpul seperti ini:
Setelah itu kita
pisahkan baju Eza yang udah kecil, kadang saya tanya Eza, “Mas ini masih muat
ga?” tapi ternyata dia cerdas, kalau emang masih muat, dia bilang iya. Kalau
sudah kekecilan, dia bilang kecil. Dan inilah baju Eza yang masih bisa dipakai setelah dipisahkan baju yang kecilnya
Friday, March 24, 2017
Merencanakan Proyek Keluarga
Setelah mengikuti materi kuliah bunda sayang yang pertama dan kedua, tiba
saatnya menuju materi sesi 3 yang lebih menantang yaitu meningkatkan kecerdasan
anak. Dan tantangan game dalam level ini adalah membuat proyek keluarga. Awalnya
tak pede saat membaca kisah bunda-bunda lain dengan proyeknya yang kece kece,
tapi akhirnya menghibur diri sendiri bahwa setiap keluarga memiliki ceritanya
sendiri-sendiri jadi saya pun mendiskusikan renccana proyek keluarga ini
bersama suami.
Ada dua rencana proyek yang saya tawarkan pada suami yaitu Proyek Merapikan
Perpustakaan Al Zayyan (nama gabungan keluarga kami) dan Proyek Sosial lewat
Berbagi Baju.
Proyek 1 : Proyek Sosial Melalui Berbagi Pakaian
Latar belakang : kondisi lemari pakaian saya, papa dan Eza yang sudah tak
beraturan, susah menyimpan baju saking banyaknya baju yang menumpuk di lemari. Mumpung
ada kegiatan sosial sekolah yang diinisiasi para siswa lewat kegiatan I Care
yang akan dilakukan minggu depan, maka pilihan menyortir pakaian untuk
disumbangkan adalah prioritas utama agar lemari pakaian ini kembali rapi dan
tak sesak lagi.
Thursday, March 16, 2017
Aliran Rasa Kemandirian
Saat mendapat materi tentang kemandirian dan tantangan kemandirian 10 hari,
tadinya saya bingung kemandirian apa yang harus dilatih pada Eza yang masih berusia 3 tahun. Saya
mendiskusikan dengan suami. Awalnya saya ingin melatih kemandirian makan, suami
mengusulkan mandi dan memakai baju. Saya pun ngobrol dengan ART tentang rencana
saya, awalnya dia enggan karena katanya masih ingin menyuapi Eza makan.
Tantangan pertama pun dimulai, bagaimana caranya supaya ART mau mendukung
program saya. Saya kerahkan berbagai upaya agar dia faham kenapa saya harus
melatih kemandirian ini pada Eza. Sambil saya contohkan jika di rumah, saat
makan, saya biarkan Eza makan sendiri walau berantakan. Biasanya si mbak nya
malas karena harus merapikan kalau Eza makannya berantakan.
Beberapa hari pertama, berhasil, saat saya tidak ada, si mbak nya kembali
menyuapi. Wah tantangannya ternyata bukan pada anak saja, tapi harus kompak
juga dengan ART. Ini tak pernah terfikirkan sebelumnya. Saya fikir nanti
masalahnya pada Eza, ternyata saaat saya jalani, Eza mau mau aja, malah ART
yang masih rindu dan seneng nyuapin... hadeuuh...
Ternyata harus pelan-pelan memberitahu mbak ART ini agar sejalan dengan
misi saya.
Monday, March 6, 2017
Bonus Melatih Kemandirian : Pengen Mandi Sendiri
Selama ini fokus saya untuk melatih
kemandirian Eza adalah urusan makan dan memakai sepatu. Ternyata bonusnya
banyak, alhamdulillah. Kemandirian bersosialisasi dan kemandirian mandi sendiri
adalah bonus yang didapat selama proses melatih kemandirian ini berlangsung.
Saya memang mencoba memberi kepercayaan penuh pada Eza (3 tahun) untuk sebisa
mungkin melakukan sesuatu, yang masih bisa dilakukan sendiri, seperti mengambil
air minum, makan, memakai sepatu dan lain lain.
Urusan mandi, sebenarnya tak ada
dalam daftar target kemandirian untuk Eza. Rasanya saya masih belum percaya aja
Eza akan bersih jika mandi sendiri, masih pengen mandiin, usap usap sabun ke
badannya, kayanya episode memandikan ini adalah episode bonding yang asyik buat
saya dan Eza untuk mandi bersama. Maka saat kemarin, tiba tiba dia minta mandi
sendiri, saya coba biarkan, saya coba kasih tau apa aja yang harus dibersihin.
Hasilnya? Tentu tak seideal jika kita yang memandikan, tapi melihat dia senang
karena dipercaya untuk bisa mandiri, itu sesuatu banget.
Ternyata beberapa kemandirian ini
bisa dilatih secara bersamaan dengan keterampilan lain. Seperti keterampilan
untuk memiliki rasa percaya diri, tak dilarang larang, itu saya dapatkan saat
saya melatih kemandirian Eza untuk makan sendiri dan memakai sepatu sendiri.
Saat mendapat bonus bahwa dia sudah berani bersosialisasi, mau diajak bertemu
orang banyak, di sesi pengajian maupun saat shalat berjamaah, itu adalah
keterampilan tersendiri yang dapat dibanggakan oleh anak usia 3 tahun.
Sunday, March 5, 2017
Melatih Kemampuan Bersosialisasi Melalui Sholat Berjamaah
Kemarin hari Jumat, Eza bangun sebelum shubuh, saat
ditawarkan papanya mau ikut sholat shubuh berjamaah ke masjid atau tidak,
dengan semangat 45 Eza langsung bangun, langsung pipis dan saya pun menyiapkan
baju koko plus saarung dan peci nya. Rasanya hal yang membahagiakan sekali saat
bisa berangkat bareng suami dan anak untuk sholat berjamaah ke masjid. Nikmat dan
menentramkan sekali.
Pernah beberapa kali saya mengajak Eza shalat
berjamaah ke masjid. Ada beberapa respon positif dan negatif yang saya dan
suami terima. Mulai dari teman teman guru, hingga siswa yang protes pun tak
sedikit. Pernah saat kami sholat berjamaah, ada siswa yang menyimpan kaca mata
dan keinjek sama Eza. Wuah kami minta maaf sama siswa ini, hingga dia berkata
agak protes ke suami, “Saya gak melarang sih pa, anak bapa ikut. Tapi kalo
sampe merusak kacamata begini, saya keberatan.” Uh rasanya saya dan suami malu
banget. Kami menawarkan untuk mengganti kacamata tersebut, tapi ternyata hanya
diperbaiki saja. Alhamdulillah.
Ada juga kejadian, saat shalat isya berjamaah, Eza
diajak. Saya sholat di pojok kanan, papanya di barisan kedua belakang shaf
jamaah laki-laki. Tiba-tiba, saya merasa kayanya Eza buang air besar, wah
gawat, karena dia jalan-jalan terus, khawatir nyebar kemana-mana. Setelah beres
sholat, saya langsung gendong Eza untuk bersih bersih di toilet masjid. Sambil saya
tanya anak putri yang ada di barisan depan, ternyata memang kena karpet. Wah malu
sekali saya saat itu, tapi saya ajak mba nya setelah bubar shalat untuk
menggulung karpet. Tetap harus bertanggung jawab setelah anak melakukan
kesalahan.
Setelah peristiwa itu, papanya melarang saya mengajak
Eza ke masjid. Sudah lama sekali ga diajak ke masjid, hingga Jumat kemarin
ditawarkan papanya karena sudah bangun sebelum shubuh. Tentu dengan diberi
pemahaman dulu bahwa dia tak boleh lagi kencing atau buang air besar di masjid.
Ternyata mengajak anak shalat berjamaah ke masjid itu
bukan hal yang mudah. Harus mempersiapkan diri untuk respon negatif dari orang
orang yang belum faham perlunya anak dilatih untuk rajin ke masjid. Beberapa masjid
memang belum ramah anak. Hal berikutnya juga harus dijelaskan ke anak, tentang
adab ke masjid. Sudah dijelaskan pun, harus siap dengan resikonya jika tiba
tiba anak kencing atau buang air besar di masjid. Jadi rindu Rasululllah yang
tetap ramah pada anak, saat ada anak yang pipis di masjid. Semoga tetap
semangat dan tidak menyerah untuk melatih Eza shalat berjamaah di masjid.
Semoga Bermanfaat
Ahad, 050317.06.30
#level2day10
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#FasilBunsay
#odopfor99days#part2#day30
Subscribe to:
Posts (Atom)
Postingan Favorit
-
Nama Allah al-'Afuww,al-Ghafur dan al-Ghaffar jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya sama yaitu Maha Pengampun. Tapi se...
-
Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki banyak fungsi. Selain sebagai petunjuk, obat, ia juga adalah sumber ilmu, terutama terkait ...
-
Untuk memahami makna La’allakum Tattaqun, kita harus mengamati penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur’an. Kata la’alla dipergunakan da...