Perjalanan Eza menuju Surabaya ini membuat saya
menyadari banyak potensi Eza yang belum dieksplor, terutama terkait ranah
hubungan inter personel (hubungan antar sesama). Eza sepertinya tak mengikuti
jejak saya terkait hal ini. Saya lebih senang menyendiri dari kecil. Saya tak
suka suasana rame. Sementara suami, senang ngobrol dan ngumpul. Saya merasakan
sendiri suasana kehangatan di keluarga suami dan mulai menikmatinya.
Maka saat Eza bermain, saya sering amati dia senang
sekali bermain bersama teman-temannya. Dari kecil, saya biasakan Eza tidur
siang, tapi seiring bertambahnya usia, Eza suka murung jika siang disuruh
pulang ke rumah, berbeda jika mendengar suara teman-temannya, Eza langsung ceria
dan terlihat berbinar binar. Ngantuk pun hilang. Semakin besar, tidur siang pun
semakin jarang.
Hari terakhir kami di Surabaya kemarin, adalah saatnya
city tour seputar wisata di Surabaya. Kami hanya mengunjungi 3 tempat yaitu pantai
Klenjeran, Masjid Cheng Ho dan pusat oleh-oleh Surabaya, mulai dari Patata
milik Oki Setiana Dewi hingga toko H. Rudy yang menjual aneka snack oleh-oleh
khas Surabaya.
Saat kami pergi ke masjid Cheng Ho, lokasinya beberapa
ratus meter dari jalan raya, Eza pengen digendong. Saya gendong sebentar,
tiba-tiba ada bapa panitia baik hati yang menawarkan untuk menggendong Eza. Saya
kira Eza ga mau karena baru kenal, ternyata mau juga, diajak ngobrol dan
bercanda. Saya terpesona dengan perkembangan sosialisasi Eza saat bertemu orang
baru dan asing, ternyata tak membuatnya takut dan sungkan.


