Saturday, July 15, 2017

Selamat Hari Koperasi, Nostalgia Koperasi, Tersesat di Jalan yang Benar



Hari Rabu kemarin adalah hari peringatan berdirinya koperasi. Saya nyaris lupa jika saja tak bergabung dengan grup wa koperasi, yaitu grup para manajer dan pejuang koperasi yang mendiskusikan berbagai hal terkait koperasi. Tahun ini peringatan hari koperasi yang ke-70 sudah dilaksanakan pada tanggal 12-15 Juli 2017 di Makasar dengan tema “Koperasi Menuju Pemerataan Kesejahteraan Masyarakat yang Berkeadilan untuk Memperkokoh NKRI."

Saya jadi terkenang kembali perjalanan saya hingga akhirnya “dipaksa” berkecimpung di dunia koperasi. Awalnya saya mengenal koperasi saat saya mesantren di MTs sebuah pesantren di Balaraja Tangerang puluhan tahun lalu (jadi berasa tua hehe). Saat itu hanya menjadi anggota saja sebagai pengguna jasa koperasi di sekolah. Menginjak SMA, saya ga berkecimpung dunia perkoperasian, menikmati masa remaja yang sering galau haha.

Saat kuliah, juga saya mengenal koperasi saat menjadi anggota koperasi mahasiswa di kampus tempat saya belajar. Tak banyak aktivitas koperasi yang saya ikuti. Saat bekerja setelah lulus kuliah lah, saya mangenal lebih dekat seluk beluk koperasi ini. Awalnya saya menjadi anggota koperasi pegawai di tempat saya bekerja sejak tahun 2004.

Bahkan, saya “dipaksa”menjadi pengurus koperasi di tahun 2007, walau sudah berusaha menghindar dengan cara mudik ke Tasik supaya tak tersentuh hiruk pikuk  pemilihan pengurus. Saya juga tak berminat sama sekali menjadi pengurus. Ternyata takdir berkata lain, anggota sepakat membolehkan memilih pengurus walau tak hadir di tempat. Ya sudah saat amanah tertancap di pundak, saya harus mencoba menunaikannya. Pasti ada rencana terbaik Allah di baliknya.

Saya mulai belajar otodidik tentang perkoperasian, terutama masalah akuntansi. Saya mulai membaca buku tentang asset, neraca, penyusutan dan istilah istilah lain yang baru saya dengar dan harus saya fahami dalam waktu singkat. Belum lagi kejadian traumatik menimpa terkait kinerja saya di koperasi. Saya mengalami tekanan psikologis yang melelahkan dan menyakitkan. Mental saya ternyata belum siap menghadapi tekanan pekerjaan dan psikologis sekaligus.

Selama dua tahun kepengurusan dari tahun 2007 hingga 2009, katanya anggota puas karena SHU (Sisa Hasil Usaha) meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, ini berkat kerja tim pengurus yang kompak dan mau berjuang keras untuk kesejahteraan anggotanya. Tapi saat anggota meminta saya kembali menjadi pengurus, saya menolak. Saya ingin menyembuhkan luka psikologis dulu demi kesehatan mental saya. Saya pun memohon ijin untuk tak menjadi pengurus kembali dengan alasan mau melanjutkan kuliah ke S2.

Waktu pun berlalu, 7 tahun saya tak terlibat di kepengurusan, ternyata berita menghebohkan datang. Koperasi dilanda masalah mis manajemen keuangan yang merugikan anggota. Saya pun terpanggil kembali. Saya kembali terpilih menjadi pengurus di tahun 2016, semoga mental saya sudah siap menghadapi segala kondisi terburuk. Hanya saja kondisi saya yang sudah punya suami dan anak, tentu berbeda dengan kondisi sebelumnya yang full tenaga. Sekarang saya harus membagi pikiran dan tenaga untuk berbagai hal.

Alhamdulillah 6 bulan menjadi pengurus, saat pembagian SHU anggota pun senang karena nominalnya meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dua tahun kepengurusan masih tersisa, saya mulai kenal berbagai komunitas koperasi, mengikuti berbagai pelatihan, bahkan program koperasi ini menjadi program unggulan saat saya melamar menjadi Manager Keuangan IIP (Institut Ibu Profesional).

Semoga berbagai amanah ini membuat saya lebih menebar manfaat dan berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saya mengikuti saja skenario Allah dalam hidup saya. Koperasi mengajarkan saya banyak hal dan membuat saya bertumbuh. Ternyata saya harus dipaksa untuk belajar. Dipaksa sambil praktek. Belajar keuangan setelah menjadi bendahara, lebih terasa sensasinya karena harus langsung diaplikasikan.
Jayalah koperasi, semoga semakin berkibar dalam memberikan kesejahteraan pada anggota dan rakyat Indonesia. Salam koperasi.
Semoga Bermanfaat

Sabtu, 150717.08.25

#odopfor99days#semester2#day39

Saturday, July 8, 2017

Ruang Bahagia Anak dan DUA Kakek Neneknya



Saat perjalanan pulang mudik dari Tasik dan Kudus, saya iseng bertanya pada Eza,

“Mas, enakan mana, pulang ke Tasik atau ke Kudus?”
Eza bilang, “Dua duanya. Tasik dan Kudus”

Suami langsung memuji jawabannya yang tak kita duga. Saya fikir dia akan memilih salah satunya, ternyata jawabannya sangat cerdas, memuaskan dan sesuai harapan kami, yaitu dia nyaman dan dekat kepada dua kakek neneknya..

Yang harus saya syukuri saat Eza lahir adalah dia masih memiliki kakek neneknya lengkap dari kedua belah pihak yaitu mbah ti dan mbah kus dari pihak suami dan mamah abah dari pihak saya. Eza memiliki keluarga lengkap adalah merupakan anugerah terindah yang akan dikenang sepanjang hidupnya.

Sejak awal, saya dan suami sepakat, kalau kami punya anak, maka ia harus memiliki kesempatan yang sama untuk dekat dengan kedua kakek neneknya. Tidak diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk dekat pada salah satunya. Konsekuensinya memang biaya yang harus disiapkan untuk mudik, itu sangat banyak karena harus melintasi 4 provinsi yaitu Banten, DKI, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Perjalanan BSD Tangsel, Tasik dan Kudus bukanlah perjalanan dekat, tapi harus ditempuh dengan ratusan kilometer yang juga menuntut stamina prima, baik kami sebagai penumpang, apalagi suami sebagai supir.

Awalnya saya takut, Eza jadi kecapean dan sering sakit, tapi ternyata sebaliknya, niat silaturahmi yang kuat dibayar Allah dengan kuatnya badan Eza dan kami orang tuanya, hingga setiap tahun kami bisa meluangkan waktu untuk mudik ke Tasik dan Kudus secara bergantian. Kami memutuskan untuk bergiliran lebaran, tahun kemarin lebarran hari pertama di Kudus, maka tahun ini lebaran hari pertama nya di Tasik. Ini menggembirakan kakek neneknya karena punya kesempatan untuk dekat dengan cucunya dan silaturahmi ke saudara dan tetangga pada hari pertama dan kedua lebaran.

Sunday, June 25, 2017

Apa Kabar Program Hamil 40 Hari? Lupakan Saja kah?



Apa kabar ya program hamil 40 hari yang dulu saya canangkan? Merayu Allah dengan ibadah 40 hari agar saya diberi karunia anak, membuat saya belajar banyak hal. Serasa disindir dengan berbagai peristiwa dan nasehat dari berbagai penjuru, akhirnya membuat saya sadar, saya harus meluruskan niat dalam beribadah. Itu saja intinya.

Saya masih tetap berusaha untuk konsisten dalam ibadah berjamaah, ibadah sosial dan ibadah lainnya yang sekuat tenaga saya pertahankan, walaupun tetap bocor juga. Sejujurnya saya tidak pernah berhasil menjaga konsistensi ibadah saya selama 40 hari full tanpa terlewat. Ternyata memang tidak mudah, karena itulah hingga beberapa bulan kemarin saya tetap mendapat haid. Apakah program ini gagal? Tentu saja tidak, karena nyatanya saya tak pernah menuntaskannya hingga 40 hari.

Kemarin sore, saat “family forum” dengan suami, suami mengingatkan banyak hal. Biasanya saat dia punya momen untuk ngobrol enak bareng saya, saat itulah dia menasehati saya sebagai suami yang bertanggung jawab terhadap saya, istrinya. Katanya tak mudah mencari waktu dan momen yang enak untuk bicara dan menasehati serta “mengevaluasi” sikap dan perilaku saya. Mencari situasi enak dimana saya tak emosi dan mudah menerima masukan, haha kebiasaan cewe ya seneng ngambek.

Maka kemarin sore dia mengingatkan banyak hal yang intinya terpusat pada satu hal, “jagalah ibadah sosial, lisan dan sikap yang sembarangan jangan sampai menghalangi terkabulnya doa”. Deg saya langsung teringat doa dan program hamil 40 hari ini, jangan-jangan karena saya terfokus pada ibadah ritual, saya melupakan satu hal, lisan dan perbuatan saya yang menyakiti orang lain juga bisa menjadi penghalang terkabulnya doa. Suami juga mengingatkan jangan-jangan ibadah sholat, baca quran dan ritual ibadah lainnya kita yang banyak, pahalanya terkikis oleh mulut dan perbuatan yang secara tak sadar membuat orang lain tersakiti dan terdhalimi, dan justru doa orang yang kita sakiti itulah yang malah makbul.

Postingan Favorit