Friday, July 21, 2017

Day 2 Cinta Matematika : Bermain Balok



Sejak Asisten Rumah Tangga menikah dan belum datang sampai saat ini, Eza sering didatangi teman-temannya yang tak jauh dari rumah. Mereka sering bermain bersama, entah itu main sepeda-sepedaan atau main mobil-mobilan dan lain-lain.

Kemarin, Eza mengajak temannya main balok. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya minta temannya yang sudah sekolah TK untuk menuliskan angka, lalu saya siapkan mangkok-mangkok, mereka bertanya tanya “mau ngapain?” saya bilang, kita bermain yaa.

Lalu saya tanya Eza tentang angka-angka yang dibuat temannya, dia belum ngeh, its oke yang penting Eza faham aplikasinya. Lalu saya simpan 3 mangkok, saya simpan kertas angka yang dibuat temannya secara acak, dan saya minta Eza memasukkan balok sesuai kertas angkanya.

“Bunda, ini diisi berapa?” tanya Eza

“Ini angka 4 ya mas, yuks kita isi empat balok. Kita hitung bareng-bareng yuks”

Eza pun semangat menghitung, “Satu, dua, tiga, empat”

Terus begitu secara acak dan bergantian Eza bermain balok sekaligus memasukkan balok berdasarkan kertas angkanya. Semoga kegiatan bermain balok ini, secara tak sadar sesungguhnya Eza sedang belajar banyak hal. Belajar bentuk, belajar warna dan belajar angka.

Matematika itu menyenangkannn...

Semoga Bermanfaat

Jumat, 210717.11.00
#Day2
#GameLevel6
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#IloveMath
#MathAroundUs
#odopfor99days#semester2#day45

Thursday, July 20, 2017

Day 1 Cinta Matematika : Mengenal Angka



Materi keenam ini adalah tentang matematika di sekitar kita. Seru dan menantang materi dan game nya. Sebenarnya Eza sudah lama dikenalkan dengan matematika, secara tidak sadar, kadang sambil naik motor saya ajak dia menghitung kerbau yang terlihat di jalan yang sering dilewati, menghitung mobil, belajar bentuk, dan lain-lain.

Saya seringkali mengajak dia naik motor baik jarak jauh maupun jarak dekat, sejak Eza berusia 2 tahun. Biasanya Eza ngantuk kalau dibawa bermotor ria dalam jarak waktu yang jauh. Maka saya sebisa mungkin mengajak dia ngobrol, memperdengarkan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, dan mengenalkan ia dengan angka-angka. Kadang saya perdengarkan angka 1-10 dalam bahasa Indonesia, di waktu lain dalam bahasa Arab dan juga bahasa Inggris. Awalnya saya iseng saja biar dia tidak ngantuk. Ternyata efeknya lumayan dahsyat, ia cepat hafal.

Kemarin pagi, seperti biasa kami lewat jalan yang sering menjadi lapangan tempat makannya para kerbau. Saya ajak dia menghitung kerbau,

“Mas, coba lihat, kerbaunya ada berapa?”

“Ada dua bunda”, jawabnya.

Saya cek kerbau yang ada di lapangan itu, memang benar hanya ada dua. Setiap hari jumlah kerbau yang ada memang berbeda-beda.

Wednesday, July 19, 2017

Ketika Eza Minta Maaf dan Hukuman untuk Bundanya



Pernahkah anak kita minta maaf saat berbuat salah? Mudahkah kita memaafkannya? Bagaimana akibatnya saat seorang ibu sulit memaafkan anaknya? Bagaimana perasaan sang bunda saat harus menerima balasan yang datang secepat kilat karena tak mudah memaafkan anaknya yang setulus hati meminta maaf padanya.

Minggu-minggu ini saat asisten rumah tangga belum datang karena sedang menikmati bulan madu setelah pernikahannya minggu lalu, saya banyak menghabiskan waktu bersama Eza. Sambil mengerjakan pekerjaan rumah, saya mengamati Eza bermain. Kadang dia anteng bermain bersama teman-temannya, kadang juga pengen bareng bundanya di rumah.

Kemarin, hari Selasa saya sampaikan pada Eza bahwa siang setelah dhuhur, agenda kegiatan kami adalah pergi ke bandara untuk mengantar teman dan siswa yang akan berangkat ke Jepang sekaligus saya suntik meningitis di rumah sakit bandara. Eza tampak senang sekali saat diberitahu akan ke bandara dan melihat pesawat. Sambil menunggu, saya kerjakan sesuatu sementara Eza saya biarkan bermain balok di karpet, ternyata dia tertidur. Pukul setengah 12 dia sudah bangun, tak lama setelah papanya datang dari sekolah.

Saat adzan dhuhur berkumandang, saya minta Eza ikut sholat dhuhur bareng kami secara berjamaah. Ternyata ia tak mau, duduk saja di kursi. Saya “ancam” dia, kalau ga sholat maka tidak akan diajak ke bandara, bisa ditebak ia pun menangis. Sepanjang saya dan suami sholat dhuhur, ia tak henti menangis. Tidak mau ikut sholat, tapi juga tetap mau ikut bundanya ke bandara. Usai sholat, dia pun tak mau lepas dari pangkuan saya, saat saya membereskan mukena dan sajadah, ia tetap menangis.

Saya acuhkan dia, dia terus mengejar saya untuk minta maaf. Eza peka sekali perasaannya, ia bisa merasakan kalau saya marah. Biasanya kalau marah saya diam saja, dan dia tersiksa sekali kalau saya diamkan. Eza masih menangis, saya bersiap-siap memakai kerudung, ia terus meminta maaf dan minta salim dan baikan, saya pun menyambutnya, membiarkan dia salim dan baikan dengan adu kelingking, tapi saya tetap diam. Ternyata dia tahu dan bisa merasakannya. Hebat sekali ya jiwa anak itu, walaupun saya sudah menyambut permintaannya untuk minta maaf dan baikan, ia tetap bisa merasakan kalau saya masih marah.

Lalu, ia pun mendatangi papanya, curhat dan lapor, kalau bahasa kita mah. Papanya menasehatinya dan memediasi saya dan Eza, haha lebay banget. Kalau ingat sekarang, rasanya malu yah saya sebagai seorang ibu tak bisa menahan emosi terhadap anak yang masih berusia 3,5 tahun. Sebenarnya diam saya itu dalam rangka menahan diri supaya tak keluar kata-kata yang tak baik dari mulut saya. Saat papa Eza menghampiri saya dan bilang, “Bunda, nih mas Eza mau minta maaf”, akhirnya saya pun luluh. Saya memaafkannya dan kembali ngobrol baik-baik dengan Eza. Kami pun pergi ke bandara dan menyelesaikan urusan suntik meningitis yang ternyata cepat sekali, tak sampai setengah jam, urusan suntik meningitis pun beres.

Sepulang dari bandara, saya tiba kembali di rumah pukul setengah 4 sore. Sambil beristirahat, tiba-tiba saya ingat satu hal, bahwa saya lupa menyimpan passport dan buku kuning suntik meningitis milik siswa saya yang sudah diberikan hari Senin kemarin. Saya cari di rumah, di kantor, di kamar teman, dimana-mana, tak saya temukan. Saya pun banyak beristigfar, hingga malam hari saya tak kunjung menemukannya.

Postingan Favorit