Friday, June 9, 2017

Pohon Literasi Day 2 : Dongeng Sebelum Tidur



Tantangan bagi anak laki-laki usia 3,5 tahun dalam mengajak membaca adalah lagi senang-senangnya bermain sama teman-temannya. Eza senang sekali bermain sama teman-temannya deket rumah, baik itu main sepeda, main mobil-mobilan atau sekedar pada ngumpul ga jelas juga sudah membuat mereka bahagia.

Dulu, Eza rutin tidur siang, jam satu siang pasti sudah merem. Sekarang, bisa tidur jam 2 siang itu udah bagus banget. Karena teman-temannya kadang datang ke rumah, trus ia lebih senang main bersama dibanding tidur. Padahal sorenya juga bermain. Kalau tidak tidur siang, biasanya sorenya jadi rewel. Maka walaupun cuma setengah jam, biasanya Eza sudah harus masuk rumah pukul 2 siang.

Setelah ashar, mereka main lagi. Lari-larian, petak umpet, sepedaan dan lain-lain. Satu sisi senang sih karena Eza bisa cepat bersosialisasi, lelaki sejati deh ga betah di rumah, maunya eksplorasi macam-macam. Tapi sisi lain, jadi harus berjuang keras untuk mengajaknya membaca. Gaya belajar kinestetik Eza memang masih dominan, maka dia tak betah kalau dibacain buku, diam duduk manis gitu. Berapa menit kemudian, pasti udah lari dan kabur haha.

Kesempatan yang sering saya manfaatkan adalah sebelum tidur, saya simpan beberapa jenis buku di kasur, sebelum tidur dia pasti melihat buku. Walaupun buku yang dipilih tetap sama, yaitu dusty trus kisah ikan Nabi Yunus (sampe bosen deh emaknya nyeritain), tapi yang penting tiap hari Eza harus berinteraksi sama buku. Baca nya baru bisa buku itu lagi itu lagi, mungkin karena emaknya mati gaya dalam mengenalkan buku jenis lain.

Dan perjuangan baru saja dimulai, hari ini hanya sempat membacakan buku yang dia sukai sebelum tidur, sedangkan emaknya masih mengkhatamkan buku Bunda Sayang hehe belum tamat tamat juga karena prakteknya tak semudah teorinya.

Suami juga ternyata type nya lebih seneng audio. Dia jarang baca buku tapi lebih sering download  ebook atau video ceramah sebagai bahan dia mencari ilmu. Buku masih numpuk di perpustakaan keluarga kami, tapi melumat habis semua buku ini, masih butuh perjuangan dan kerja keras. Jadi hari ini hanya Eza dan si bunda yang bisa nempel daun di pohon literasi. Semoga besok papanya Eza bisa ikut gabung.

Semoga Bermanfaat

Jumat, 090617.13.30
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#Day2
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

#odopfor99days#semester2#day27

Thursday, June 8, 2017

Pohon Literasi Day 1 : Menyiapkan Pohon Literasi Al Zayyan



Materi 5 di kelas bunda sayang ini adalah tentang Menstimulasi anak suka membaca. Sejak kecil, sebenarnya Eza sudah biasa dibacakan cerita. Tapi ko makin gede, saat udah kenal bermain trus sama mba nya dikenalkan Upin Ipin, minat bacanya jadi menurun drastis nih. Perlu perjuangan keras lagi dari si bunda untuk mengembalikan minat baca Eza.

Maka langkah pertama adalah menyiapkan pohon literasi. Saya ajak si mba yang ngasuh, untuk menyiapkan pohon literasi. Awalnya dia bingung, tapi pas saya perlihatkan contoh dari teman-teman fasilitator bunda sayang, baru deh dia kebayang. Beberapa hari yang lalu, saat kami jalan-jalan sore usai berkunjung ke rumah guru ngaji, saya sempatkan beli bahan perlengkapan untuk membuat pohon literasi. Alhamdulillah si mba nya semangat bikin malem-malem.

Saking semangatnya, itu pohon ditambahin gambar kupu-kupu, gambar bebek dan lain-lain. Dan tahukah tanggapan Eza saat melihat pohonnya ditempel? Eza bilang, “Bunda, aku suka pohonnya,” Yeayy. Saya minta dia berterima kasih sama mba nya yang sudah membuatkan pohon literasi. Saya mencoba membiasakan kata maaf dan terima kasih pada Eza agar ia terbiasa meminta maaf dan berterima kasih atas anugerah apapun yang diterimanya.

Tuesday, June 6, 2017

Tadabur Sosial : Mengembangkan Kesalehan Diri & Sosial (Bagian Ketiga)




Setelah sesi bakti sosial di sore hari, agenda berikutnya adalah buka puasa bareng. Dengan menu seadanya, semua siswa dan siswi menikmati makanan yang telah disediakan. Suasananya khidmat walo tetap rame karena jumlah siswa nya sekitar 300 orang lebih. Setelah itu mereka sholat magrib dan shalat tarawih.

Usai sholat tarawih, ada sesi sharing alumni dari sepasang pengantin (lama) Andam Deatama Defino dan Halida Umi Balkis yang mengambil tema, Menjadi Insan Cendekia. Ada 3 hal besar yang menjadi ilustrasi materi ini yaitu Self Competences, Humnaity & Spirituality. Self Competences terkait dengan tugas dan bekal sebagai khalifah yaitu knowledge dan character. Humanity adalah hablum minan nas yang  menyoroti relasi murid dengan guru. Sementara spirituality terkait dengan visi hidup, menjadikan shalat sebagai kebutuhan dan kembali pada Al-Qur’an.

Pada sesi tanya jawab, alih-alih menanyakan materi, malah ada yang bertanya perjalanan mereka menuju pernikahan, dari koordinator kegiatan ko bisa menjadi koordinator rumah tangga, heboh lah tuh suasana malam di masjid Adz-Dzikra Sentul. Untunglah tips dari kakak alumni keren banget yaitu jadikan shalat dan sabar sebagai penolong serta datangi Allah untuk memudahkan segala urusan. Semoga pada semangat untuk mendekat pada Sang Maha Pencipta, bukan malah mendekati sang makhluk yang disukai. Acara yang seru ini baru berakhir pukul 22.30. Dilanjutkan dengan istirahat malam untuk mempersiapkan esok hari..

Esoknya setelah sahur dan berkegiatan pagi seperti mandi dan lain-lain, sesi terakhir diisi oleh Ridwan Mukri, yang mengambil tema, Membangun Generasi Indonesia yang Fathonah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh (FAST)”. Ridwan Mukri ini mantan trainer EQ yang menemukan teori baru berdasarkan sifat mulia yang dimiliki Rasulullah yaitu yang disingkat FAST.


 Menariknya, di sesi ini, kami para peserta diminta mengisi test kepribadian berdasarkan standar FAST. Tes ini secara sederhana dapat menggambarkam kepribadian kita mana yang lebih dominannya, apakah Fathonah nya, siddiq, amanah atau tabligh nya. Saya iseng-iseng mengikuti tes ini bareng siswa, dan alangkah kagetnya saya bahwa ternyata saya yang paling dominan adalah tablligh nya atau komunikasinya. Padahal saya merasa aspek komunikasi ini tantangan nya lumayan tidak ringan, tapi ternyata disitu saya lebih dominan tablighnya dibanding karakter lainnya. Baiklah semoga menjadi bahan renungan dan pemikiran tersendiri untuk menentukan langkah ke depannya.

Setelah sesi ini berakhir pukul 11 siang, acara dilanjutkan dengan penutupan oleh ketua panitia kegiatan tadabur sosial ini. Dan setelah itu, kami pun meninggalkan lokasi masjid Adzikra Sentul untuk kembali ke kampus kami tercinta, MAN Insan Cendekia Serpong. Alhamdulillah perjalanan lancar dan tiba di kampus pukul 1 siang. Semoga para siswa mendapat pencerahan dan bergerak menuju lebih baik. Aamiin

Semoga Bermanfaat

Selasa, 060617.23.10

#odopfor99days#semester2#day25

Postingan Favorit