Monday, April 24, 2017

Day 1 : Mengamati Gaya Belajar Eza



Pada minggu keempat materi kuliah Bunda Sayang IIP ini, pembahasannya adalah tentang gaya belajar anak. Tantangan game level 4 ini pun seputar gaya belajar anak. Sebenarnya dari kemarin kemarin sudah ingin memulai tantangan game level 4 ini tapi berbagai kesibukan dan mudik liburan, jadi alasan klasik sebagai pembenaran tertundanya tulisan hehe.

Berdasarkan materi yang disampaikan Bu Septi tentang gaya belajar anak, ada 3 macam modalitas belajar anak yaitu :
      1.      Auditory, modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair dan hal-hal lain yang terkait.

      2.      Visual, modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.

      3.      Kinestetik, modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi dan hal-hal lain yang terkait.

Dan menurut Euis Yulianti dalam kulwap di Sulawesi Selatan, gaya belajar tidak bisa diputuskan atau ditetapkan ketika anak masih dalam masa eksplorasi, usia 2-3 tahun adalah masa-masa eksplorasi dan ingin tahu yang tinggi. Tipe auditory, visual, kinestetik semuanya masih dalam proses perkembangan. Semua itu bisa muncul pada setiap anak dan bisa berubah karena mudah bosan.

Maka yang saya lakukan adalah memberikan stimulus sebanyak-banyaknya pada Eza agar potensi belajarnya berkembang. Selama ini lebih sering mengajak Eza untuk main outdoor, dan ternyata dia memang senang bergerak. Sepertinya emang mayoritas anak lak-laki senang bergerak ya, ga bisa diam dan terus saja bereksplorasi. Seperti saat saya ajak Eza belanja ke mall, saya berikan keranjang belanja, dan dia malah dorong-dorong haha. Nikmati saja duniamu ya Za...

Semoga Bermanfaat

Senin, 240417.06.00
#odopfor99days#part2#day71
#tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#Day1

#KuliahBunsayIIP

Hari Ke-7 : Program 40 Hari Mencari Si Cinta : Silaturahmi pada Orang Tua



Hari Kamis tanggal 20 April 2017, saya dan keluarga memutuskan untuk mudik pada rumah orangtua saya di Tasik. Banyak orang berfikir, saat liburan long weekend seperti minggu ini dimana hari Senin adalah libur nasional peringatan isra miraj, itu adalah saatnya liburan jalan-jalan ke berbagai tempat wisata, menikmati kuliner berbagai kota dan berfoto ria di bergai kota atau bahkan negara. Tapi yang sering terlupakan adalah bahwa orangtua kita juga punya hak atas waktu kita. Orangtua merindukan kehadiran anak dan cucunya, walau harus repot menyiapkan segala makanan dan segala tetek bengeknya, tapi justru disitulah letak kebahagiaan orangtua yaitu saat merasa dibutuhkan anak dan cucunya.

Saya baru menyadarinya beberapa minggu sebelumnya, saat ada tanggal merah di bulan Maret dan saya menelpon orangtua, keluarlah dari mulut ibu saya, “kirain mau pada ke Tasik”. Barulah saya sadar, bahwa ternyata kehadiran saya dan keluarga masih dirindukan. Memang saya sempat hunting tiket untuk menikmati long weekend di bulan April ini, apalagi hari ini adalah ulang tahun pernikahan saya yang keempat, pengen gitu sekali-kali menikmati liburan ke kota atau negara mana gitu bareng suami dan Eza. Tapi setelah mendengar harapan mamah itu, saya langsung diskusi ma suami, alhamdulillah disetujui. Apalagi pas mengajak abah saya, dia senang banget saat tahu akan mudik ke Tasik. Maklum sudah beberapa bulan dia tidak bertemu istrinya, karena abah “bekerja” di Tangerang, sementara mamah di Tasik. Abah mengajar anak-anak di mushola, sementara mamah lebih senang menikmati berbagai pengajian di Tasik.

Akhirnya kami berangkat dari Tangerang pukul 22.30 bersama abah saya dan kakak saya plus anaknya. Kami berfikir jika berangkat malam tidak akan macet. Ternyata oh ternyata, macet sangat bo. Baru di Jakarta saja sudah macet panjang, entah itu orang-orang baru pada pulang kerja atau malah baru mau meninggalkan Jakarta. Yah tidak ada pilihan lain selain menikmatinya. Kami baru tiba pukul 2 malam di rest area km 57. Suami langsung tepar di masjidnya yang indah. Saya yang penumpang aja pegal dan ngantuk, apalagi suami yang nyetir. Alhamdulillah punya kesempatan untuk tahajud. Kami melanjutkan perjalanan lagi pukul 3 pagi.

Thursday, April 20, 2017

Hari Ke-6 : Program 40 Hari Mencari Si Cinta : 4 Tahun Pernikahan



Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya protes dan menangis-nangis dalam doa saya, mengadu betapa lelahnya saya berpuluh puluh kali taaruf dan tak kunjung berujung di pernikahan. Rasanya belum lama saya mengirim surat pada orang tua sebagai bentuk protes saya saat orang tua menolak calon suami yang saya ajak ke rumah. Rasanya ... Rasanya ... Rasanya sungguh malu jika saya mengingat saat saat jahiliyah itu. Sekarang betapa bersyukurnya saya dengan kehidupan saat ini. Jika saja Allah mengabulkan keinginan saya saat itu, ah entah apa jadinya.

Tepat 4 tahun lalu, di tanggal inilah saya resmi melepas masa lajang dan resmi bersuamikan orang Kudus. Teman yang bertransformasi menjadi partner 24 jam dalam kehidupan, mewarnai seluruh kehidupan saya. Dan tepat setahun setelah pernikahan, kami resmi menjadi orang tua dari seorang cowo mungil nan lucu yang akhirnya kami beri nama Muhammad Zahid Al Zayyan, yang dalam kehidupan sehari-hari dipanggil Eza. Eza ini adalah singkatan dari nama saya dan suami yaitu EvaZAenuri.

Kehidupan pernikahan yang baru dijalani selama 4 tahun, tentu bukan tanpa masalah. Berbagai konflik dan tantangan pernikahan, telah kami lalui dengan mulus sejauh ini, alhamdulillah. Saya bersyukur sekali menikah dalam usia yang cukup matang, sehingga emosi sudah lebih terkelola, walau masih saja suka berapi api dan cemberut ga jelas pada suami hehe.

Postingan Favorit